Satu Dhamma

Satu Dhamma

Oleh: YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera

 

Selama ini, kita mengenal adanya 2 tradisi besar dalam agama Buddha yaitu tradisi Theravada dan tradisi Mahayana yang seakan-akan berbeda, padahal keduanya adalah sama, yaitu sama-sama membawa kita mengapai kebahagiaan hingga akhirnya tercerahkan.

Sulitnya menerima perbedaan yang ada kadang justru menimbulkan perselisihan, padahal tanpa disadari kita sebenarnya hidup dalam perbedaan itu sendiri. Sebenarnya bila kita dapat melihat perbedaan itu, maka akan timbul keasikan tersendiri karena justru dari perbedaan itulah kita bisa saling menunjang, saling bekerjasama dimana masing-masing menjalankan tugasnya sendiri-sendiri. Salah satu contohnya adalah tangan kita, bila diamati sebenarnya kedua tangan kita berbeda dan memiliki perannya masing-masing. Bila tangan kanan memang sendok sewaktu makan, maka tangan kiri menjalankan perannya memegang garpu. Bukankah itu adalah suatu hal yang indah? Coba bayangkan apa jadinya bila kedua tangan kita persis sama, misalnya kedua-duanya hanya tangan kanan atau kedua-duanya hanya tangan kiri..?

Begitu juga sebenarnya dengan keanekaragaman aliran agama yang ada. Semestinya kita bisa menerima bahwa aliran agama Buddha ini meskipun berbeda, juga menjalankan peran dan bidangnya masing2, tujuannya sama-sama mengarahkan kita menjadi manusia yang lebih baik hingga tercerahkan. Jika kita memandang perbedaan ini secara seimbang dengan melihat dari saat petapa Gotama mencapai mencapai pencerahan dibawah pohon Bodhi sebagai titik nol, maka tradisi Theravada (dari India ) menggunakan titik dimana Sang Buddha mencapai kesucian sebagai titik nol dan ke depan, sedangkan tradisi Mahayana (dari Tiongkok – dan menyebar lagi ke Tibet sebagai aliran Vajrayana) menggunakan titik Sang Buddha mencapai kesucian sebagai titik nol dan ke belakang.

Oleh karena itulah dalam tradisi Theravada lebih banyak diajarkan khotbah-khotbah Sang Buddha yang dibabarkan setelah Beliau mencapai pencerahan, sedangkan Mahayana lebih menitikberatkan ajarannya tentang Bodhisatta, tentang pengumpulan kebajikan/ menyempurnakan parami-parami. Karena sebelum pangeran Siddharta mencapai Buddha, beliau juga seorang Bodhisatta dan jadi inilah yang diajarkan dalam aliran dari Tiongkok. Dengan kata lain, kedua tradisi yang berbeda ini pembahasannya tetap sama, hanya sudut pandang saja yang berbeda. Tetapi intinya tetap sama, karena keduanya menceritakan riwayat hidup Sang Buddha, hanya saja yang satu lebih banyak mengajarkan waktu sebelum pangeran Siddharta menjadi Buddha sedangkan yang satunya lagi lebih banyak mengajarkan waktu setelah pangeran Siddharta menjadi Buddha.

Meski demikian, anda tidak akan pernah menemukan ada dari kedua tradisi besar agama Buddha yang mengajarkan menurut pribadi-pribadi yang lain selain sang Buddha. Tidak akan pernah ada yang mengajarkan “Kalo menurut Si Budi atau Si Christine…” tetapi pastinya semua yang diajarkan dalam agama Buddha adalah “Menurut Buddha….”

Dengan kata lain, boleh dikatakan bahwa tradisi yang ada sama-sama mengajarkan Satu Dhamma yang tidak mungkin berbeda, yaitu Empat Kesunyataan Mulia , yang isinya adalah Hidup berisi ketidakpuasan, ketidakpuasan itu ada sebabnya, sebab itu bisa dihilangkan sehingga orang bisa mencapai kebahagiaan sejati dan cara mengatasi ketidakpuasan yang disebabkan oleh keinginan yang disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Tidak mungkin ada akan mengatakan bahwa Kesunyataan Mulia ada 5, atau pula mengatakan bahwa Jalan Mulia berunsur Sembilan.

Kita memilih tradisi karena kecocokan, jadi janganlah karena memilih tradisi yang satu kemudian mengatakan tradisi yang lain salah. Selama aliran atau tradisi itu mengajarkan Empat Kesunyataan Mulia, Jalan Mulia Berunsur Delapan, dan Hukum Karma, maka itulah Buddha Dhamma. Yang juga harus kita ketahui dengan pasti bahwasannya Dhamma atau ajaran dari semua Buddha adalah Sama, tidak mungkin berbeda dan itulah sebabnya hanya ada 1 Dhamma.

Sekali lagi, inilah yang dinamakan perbedaan yang indah itu, yang dapat menambahkan seni dalam kehidupan kita. Kelihatan beraneka, namun di dalamnya tetap hanya ada 1 Dhamma (Kebenaran). Bagaikan gelas yang dibuat dengan berbagai macam bentuk dan motif, namun sesungguhnya itu tetap sebuah gelas yang fungsinya sama, hanya kita sendiri yang melihatnya sebagai berbeda dan menjadi kompleks. Begitu juga dengan kedua tradisi yang berbeda, pikiran kita sendirilah yang melabelinya dengan berbagai macam merk.

Janganlah puas menjadi umat Buddha yang hanya percaya dengan membaca buku-buku, kitab suci atau mendengar Dhammadesana dari Bhikkhu Sangha. Tetapi setelah percaya kita juga harus EHIPASSIKO dengan mempraktekkan sendiri ajaran Buddha itu sehingga bila terbukti kita baru bisa yakin.

Sumber : Kalyanadhammo : B+Magz Edisi 7 Bulan Agust-Sept 2008

 

Seperti kita ketahui di negara kita ini, selain ajaran agama dari Guru Agung kita Sang Buddha sendiri, juga terdapat ajaran dari aliran lainnya. Sering sekali kita dengar atau lihat bahwa konflik bisa terjadi atas nama agama atau aliran yang berbeda. Hal itu dikarenakan para umatnya yang saling memperdebatkan kebenaran agama yang diyakininya masing-masing.

Manusia biasanya sulit sekali menerima perbedaan, padahal kenyataannya kita memang hidup dalam perbedaan itu sendiri. Satu contoh yang paling dekat bisa kita amati dari kedua telapak tangan kita sendiri. Keduanya tidak sama. Saat makan, tangan kanan memegang sendok, tangan kiri memegang garpu. Kedua tangan ini berbeda, tetapi justru dalam perbedaan ini mereka memiliki perannya masing2 dan bisa saling bekerja sama untuk satu tujuan, menunjang hidup kita. Sungguh tidak bisa dibayangkan, apa jadinya kalau kedua telapak tangan kita ini bentuknya sama semua. Kedua2nya hanya tangan kiri atau kedua2nya hanya tangan kanan.

Begitu juga dengan keanekaragaman aliran agama yang ada. Semestinya kita bisa menerima bahwa tiap2 dari agama ini meskipun berbeda, juga menjalankan peran dan bidangnya masing2, tujuannya sama-sama mengarahkan manusia menjadi baik. Seperti aliran Theravada (dari India ) dan Mahayana (dari Tiongkok – dan menyebar lagi ke Tibet sebagai aliran Vajrayana). Theravada menuju pada Arahat, sedang Mahayana pada Bodhisattva. Kita bisa memandang perbedaan ini secara seimbang dengan melihat dari saat petapa Gotama duduk di bawah pohon Bodhi dan mencapai pencerahan sebagai titik awal (nol).

Theravada dimulai pada dimensi “setelah” titik itu, di mana lebih banyak terdapat khotbah2 Sang Buddha waktu Beliau telah mencapai pencerahan. Mahayana pada dimensi “sebelum” titik itu, sehingga lebih menitikberatkan pada kehidupan Bodhisatta sebelum mencapai kebuddhaan, yang mengumpulkan kebajikan/parami2. Dengan pola pandang yang seimbang (horizontal) tersebut, kita tidak lagi saling mendiskriminasikan aliran agama satu dengan lainnya.

Kemudian, setelah tadi kita melihat perbedaan yang ada pada kedua tangan kita sendiri, kita bisa coba melihat pada kedua tangan orang lain yang ada di sekitar kita. Lebih bagus atau jelek tangan siapakah? Jika dalam hal tangan saja, kita bisa merasa bahwa tangan milik kita lebih bagus dari tangan orang lain, maka ada kecenderungan dalam hal agama, kita juga bisa memandang ajaran agama yang kita anut lebih bagus dan memandang rendah ajaran agama yang dianut orang lain.

Di sini yang lebih ditekankan adalah bagaimana diri kita sendiri dulu sebagai umat Buddha. Pembahasan mengenai agama sepertinya hal yang sangat sensitif, apalagi dengan umat yang kepercayaannya tidak satu versi dengan kita. Misalkan: kalau kita berbincang dengan seorang teman, tiba-tiba saat topik bahasannya lari ke pertanyaan, “kamu menganut agama/aliran kepercayaan apa?” dan kemudian ternyata jawabannya tidak sama seperti kepercayan kita, apakah kita akan risih atau menarik diri sejenak? Berpikir “oh, ternyata orang ini bukan dari golongan saya (seakan2 kita sendiri paling benar, orang lain sesat).”

Sering sekali kita lupa, bahwa tujuan utama setiap agama adalah untuk mengajarkan kepada manusia tentang bagaimana menjalani suatu kehidupan yang terhormat dan tidak membahayakan serta menemukan pembebasan dari penderitaan fisik dan mental. Ketika kita memilih satu kepercayaan, tidak lantas berarti ajaran agama yang kita pilih bagus sementara yang lainnya jelek. Kita bahagia meyakininya, bahagia menjalaninya semata-mata karena kita “cocok” dengan ajaran agama yang kita anut tersebut. Bukan perihal benar-salah/bagus-jelek.

Tidak jarang di antara kita yang tentu merasa telah mempunyai keyakinan yang kuat dan mantap (SADDHA) terhadap Dhamma-Vinaya dari Guru kita sendiri, Sang Buddha. Seolah tidak ada lagi keragu-raguan (VICIKICCHA) sedikitpun.

Apa kita benar2 yakin bahwa kita sudah memiliki SADDHA itu…?
Apakah benar kita se-yakin itu pada isi tulisan yang terdapat dalam Tipitaka….?
Kalau kita benar seyakin itu, wuahh..hebat!! berarti banyak di antara kita yang mengaku sudah mencapai tingkat kesucian Sotapanna.
Atau tanpa kita sadari, malah kita ini juga hanya percaya saja dari membaca buku2 yang berisi Sutta-Sutta Guru atau mendengar dhammadesana dari Sangha…? Sudahkah kita EHIPASSIKO secara sempurna dengan mem-PRAKTEK-kan sendiri seluruh ajaran Guru…?
Sudahkah JALAN ARYA BERUAS DELAPAN tersebut kita buktikan sendiri, bukan cuma mengerti secara baik teori dhamma belaka…?
Kalau belum, maka janganlah dulu kita terlalu percaya diri atau bangga dengan ajaran agama kita sendiri. Juga janganlah kita menganggap bahwa hanya ajaran agama kita sendirilah yang paling mulia, sementara yang lainnya keliru.

Bhante sendiri mengatakan, ketika pernah suatu kali ditanyai umat, Beliau masih menjawab BELUM YAKIN, harus satu-satu dibuktikan dan dilatih sendiri terlebih dahulu, sampai suatu saat ketika sudah mencapai pencerahan, baru bisa yakin bahwa sudah mencapai tingkat kesucian itu atau belum. Bhante berkata bahwa Beliau memang PERCAYA pada dhamma, tapi belum YAKIN sepenuhnya, masih terus dibuktikan. Kalau Beliau tidak percaya, tidak mungkin Beliau memilih ajaran Buddha dan menjadi Bhikkhu.

Dalam Tipitaka yang kita percayai (namun bukan yang kita terima begitu saja),
memang ada disebutkan bahwa selama ajaran dari seorang Buddha belum lenyap, maka Buddha yang baru tidak akan muncul. Seperti yang kita ketahui saat ini ajaran dari Buddha Sakyamuni masih ada. Kalaupun ada desas-desus muncul Buddha baru, pastilah bukan di Bumi tempat kita tinggal saat ini, melainkan di Bumi (alam) yang lain lagi. Karena Dhamma/ajaran dari para Buddha adalah sama, menyangkut Empat Kesunyataan Mulia. Kita masih berada dalam masa kejayaan Dhamma, di mana masih banyak buku berisi Dhamma dari Sang Guru, masih banyak Sangha, bisa disimpulkan kedatangan Buddha yang baru ke Bumi kita ini masih sangat lama sekali, kita sendiri masih dapat bertumimbal lahir dalam banyak lagi kehidupan sebelum kepunahan Dhamma ini. Kita boleh saja mempercayai, tapi belum tentu setiap orang juga akan “sesuai” dengan paham kita.

Sekali lagi, inilah yang dinamakan perbedaan itu. Ada seni dalam kehidupan kita. Kelihatan beraneka, namun di dalamnya tetap hanya 1Dhamma (kebenaran).

Seperti sebuah gelas yang dibentuk dengan berbagai macam motif, namun sesungguhnya itu tetap sebuah gelas yang fungsinya sama, hanya kita sendiri yang melihatnya sebagai berbeda dan kompleks. Begitu juga dengan berbagai aliran kepercayaan yang berbeda-beda, pikiran kita sendirilah yang melabelinya dengan berbagai macam merk.

Setiap agama apapun yang pada dasarnya mengarah pada “Hindari kejahatan, Lakukan Kebajikan, Sucikan Pikiran”, maka agama tersebut sesuai dengan Dhamma. Ada banyak cara pendekatan meraih kebahagiaan batin. Ritual ataupun berbagai macam metode dari masing2 umat agama hanya merupakan “tradisi” atau sebuah“kebiasaan” yang mereka jalani, yang mereka percayai. Seperti contoh sederhana, jubah yang dipakai oleh Bhikkhu di tempat kita tidak akan cocok dipakai oleh Bhiksu/Suhu di Tiongkok pada bulan November. Jubah2 Suhu di sana memang sudah dirancang sesuai untuk mereka kenakan di daerah itu. Jadi, tidaklah perlu dipermasalahkan. Senantiasa belajar menyesuaikan diri pada setiap kondisi yang berbeda. Jangan menyulut pertentangan/permusuhan. Sebaliknya, pupuklah persahabatan dengan menjaga kerukunan dengan sesama, saling menghargai perbedaan. Semoga Semua Makhluk Bahagia…

*****

Berikut ini saya juga mengutip beberapa pernyataan untuk bersama kita renungkan sejenak.

Raja Asoka
Kita tidak seharusnya memandang rendah, mengecam, atau bahkan menolak paham dari aliran/agama lain. Siapa saja yang menghormati agamanya sendiri dan mencela agama2 lain, berpikir bahwa ia sedang berbakti pada agamanya sendiri, namun dengan berbuat demikian ia justru melukai agamanya sendiri secara lebih menyedihkan. Dengan menghormati agama2 lain atas pertimbangan tertentu, seseorang membantu agamanya sendiri untuk tumbuh di samping juga tidak merugikan agama2 lain.

Mahatma Gandhi
Kita tidak bisa mengharapkan negara kita berkembang menjadi hanya satu agama yang sama semua, tetapi dalam perbedaan2 agama itu kita belajar bersikap toleran dan dapat bekerja sama satu sama lain.

YM Dalai Lama XIV
Setiap tindakan yang sadar dan yang bertujuan untuk membawa sebuah hasil
(akibat), muncul dari sebuah motivasi. Agama saya sangat sederhana. Motivasi utama saya- yaitu Cinta Kasih. Agama saya adalah kebaikan hati.

-Buddha- Majjhima Nikaya.
O para Bhikkhu, bahkan pandangan ini – Dhamma,
yang begitu suci dan begitu jelas,
jika Engkau mencengkeramnya kuat2,
jika Engkau menimang-nimangnya,
jika Engkau melekat padanya,
maka Engkau tidak mengerti,
bahwa ajaran itu sama seperti sebuah rakit,
yang mana digunakan untuk menyeberang,
bukannya untuk digenggam erat-erat.

With Metta,
Yumita Lenacari

 

sumber : http://groups.yahoo.com/group/samaggiphala/message/46739

diambil dari : samaggi-phala.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*