Belajar Menjadi Bijaksana

Sebagai manusia awam yang masih dihinggapi ketamakan, kebencian dan kegelapan batin(Lobha, Dosa, Moha) seringkali kita sebagai seorang umat Buddha mudah sekali menilai seseorang hanya dari bentuk luarnya saja melalui panca khanda(fisik & batin) yg masih diliputi “keakuan”(ego) yg sedemikian tebal ini. Sebenarnya hal tersebut adalah hal yg wajar dan sah-sah saja karena diri kita sendiri belumlah mencapai kesucian, masih penuh dengan “ego” yg disebabkan oleh LDM(Lobha,Dosa,Moha). Untuk mengikis serta menghilangkan “keakuan” Sang Buddha sebenarnya sudah memberikan 1 teknik pamungkas yaitu dengan cara “melihat ke dalam batin”. Mungkin karena terlalu sibuk dengan hiruk pikuk urusan duniawi membuat kita lupa untuk “melihat ke dalam”, kita terlalu sering utk memperhatikan, menilai dan melihat orang lain begini dan begitu. Seakan kita lupa esensi dari Dhamma itu sendiri sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri! Untuk pembebasan diri sendiri bukan untuk orang lain. Seorang Bodhisatta dalam mengumpulkan Paramita-paramita selama beratus sampai ribuan kehidupan pun sebenarnya adalah untuk diriNya sendiri agar dapat menjadi seorang Sammasambuddha(salah satu syarat menjadi seorang Sammasambuddha adalah menyempurnakan 10 Paramita/kebajikan besar).

Oleh Karena terlalu sering melihat keluar akhirnya timbullah penderitaan karena kita menilai pemikiran orang lain tidaklah sama dengan pemikiran kita dan tanpa kita sadari kita mengharapkan pemikiran orang lain untuk sama dengan pemikiran kita. Padahal yg kita lihat dan nilai hanya bentuk luarnya saja sebagai contoh saya ambil kisah tentang “Buddha hidup” Cikung. Dari bentuk luar sebagian besar orang mungkin hanya melihat Beliau sebagai seorang Biksu yg sering melanggar sila seperti mabuk-mabukan dan berzinah, padahal realita yang sebenanya adalah tidak seperti itu! Anicca, Dukkha, Anatta adalah sifat sejati dari keseluruhan semesta ini termasuk ‘nama dan rupa’ suatu makhluk/seseorang jadi hargailah setiap perbedaan yang ada dengan lebih bijaksana. Seseorang akan senantiasa damai dimanapun ia berada apabila ia mematuhi 3 hukum, yaitu : Hukum Ketuhanan, Hukum Negara dimana ia tinggal dan Hukum Adat/Lingkungan dimana ia berada. 

Setiap makhluk pemilik dan pewaris karmanya masing-masing dan setiap orang memiliki caranya masing2 untuk mempraktekkan Dhamma dalam kehidupannya sehari-hari. Setiap Makhluk mempunyai kelebihan dan kekurangannya masih-masing karena mempunyai timbunan karma dan kondisi yg berbeda-beda. Ketika seseorang tidak dapat berubah sesuai keinginan kita maka diri kita sendirilah yg harus berubah, belajarlah untuk menjadi seseorang yg dapat mengerti orang lain bukan malah sebaliknya ingin selalu dimengerti orang lain. seseorang tidak akan pernah bisa merubah suatu kenyataan akan tetapi seseorang bisa mengubah keinginan yg disesuaikan dengan kenyataan yang ada karena agama Buddha adalah agama tentang “kesadaran dan perubahan”.

Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat untuk kita semua agar tidak terlalu sering melihat ke luar serta menilai negatif terhadap orang lain, akan tetapi semoga tulisan ini dapat membuat kita untuk lebih sering melihat ke dalam diri kita sendiri. Semoga dengan lebih sering melihat ke dalam batin dapat menjadikan diri kita menjadi orang yg lebih bijaksana di dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita semua semakin maju dalam Dhamma yang di landasi dengan Pandangan Benar dan Pikiran benar.  Semoga Semua Makhluk Berbahagia. Sadhu…

This entry was posted in Artikel Dhamma. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>