108 Perumpamaan Dhamma Bagian 6

91.    Tetap Memperhatikan
Jika kamu lupa selama semenit, kamu gila selama semenit. Jika perhatian penuh kamu hilang dua menit, kamu gila selama dua menit itu. Jika ia hilang selama setengah hari, kamu gila selama setengah hari itu. Demikianlah hal ini terjadi. Perhatian penuh berarti menjaga sesuatu di dalam pikiran. Ketika kamu bertindak atau berkata sesuatu, kamu harus mengingat agar tersadarkan. Ketika kamu melakukan sesuatu, kamu sadar apa yang sedang kamu lakukan. Menjaga kesadaran di dalam pikiran adalah seperti mempunyai benda-benda untuk dijual di rumahmu. Kamu terus menjaga barang-barangmu, terhadap orang yang datang untuk membeli, dan terhadap para pencuri yang datang untuk mencuri barang-barangmu. Jika kamu selalu menjaga barangbarang tersebut, kamu akan tahu apa tujuan kedatangan tiap-tiap orang tersebut. Ketika kamu memegang senjata di tanganmu seperti ini –dengan kata lain, kamu terus memperhatikan- maka ketika para pencuri melihatmu, mereka tidak akan berani melakukan suatu hal apapun. Hal ini sama seperti objek-objek pikiran. Jika kamu penuh perhatian dan sadar, mereka tidak akan mampu untuk melakukan hal apapun terhadapmu. Kamu tahu: Sebuah objek yang baik tidak akan selalu membuatmu dalam suasana hati baik selamanya. Ia tidaklah pasti. Ia dapat hilang sewaktu-waktu. Jadi mengapa kamu tetap melekat padanya? “Saya tidak suka ini”: Ini juga bukan suatu hal yang pasti. Ketika kasus ini yang terjadi, objek-objek pikiran semata-mata tidak berlaku dan kosong belaka, itu saja. Kita terus mengajarkan diri kita cara ini, kita tetap perhatian penuh, kita tetap menjaga diri kita sendiri secara terus menerus: di siang hari, di malam hari, kapanpun waktunya.

 

92.    Menerima Para Pengunjung
Buatlah pikiranmu sadar dan bangun. Terus perhatikan ia. Jika ada seseorang yang datang berkunjung, lambaikan tangan minta mereka pergi. Tidak ada tempat untuk duduk disini bagi mereka, karena disini hanya ada sebuah kursi. Cobalah untuk duduk di sini menerima para pengunjung setiap hari. Inilah yang disebut sebagai “Buddho.” Tinggal dengan kuat di sini. Jagalah kesadaran sehingga ia bisa memperhatikan pikiran. Ketika kamu duduk di sini, semua pengunjung yang telah datang berkunjung sejak masa lalu –ketika kamu dilahirkan kecil dan mungil- akan datang ke sini dimana kamu melakukan “buddho” semua oleh dirimu sendiri. Sedangkan bagi para tamu, para pengunjung yang datang dari jauh, mengkhendaki berbagai hal yang berbeda, kamu membiarkan mereka pergi bersama dengan persoalan-persoalan mereka sendiri. Tindakan pikiran pergi bersama mereka dinamakan cetasika. Apapun itu, kemanapun ia pergi, siapa yang peduli? Cukup perkenalkan dirimu dengan para pengunjung yang ingin datang dan tinggal. Kamu hanya mempunyai satu kursi untuk menerima mereka, jadi kamu hanya meletakkan satu orang disana sepanjang waktu. Yang lainnya tidak akan dapat tempat untuk duduk. Sekarang ketika mereka datang kemari dan berbicara denganmu, mereka tidak dapat duduk lagi. Lain waktu mereka datang, kapanpun mereka datang, mereka tetap menemukan satu orang yang duduk di sini yang tidak pernah pergi. Berapa kali lagi mereka akan terus datang jika apa yang bisa mereka lakukan hanyalah berbicara denganmu? Kamu akan mengenali mereka semua, semua yang telah datang sejak dulu ketika kamu pertama kali menyadari hal-hal. Mereka semua akan datang untuk berkunjung.

 

93.    Ayam di dalam Sebuah Kandang
Ketika perhatian penuh dan pikiran bertugas datang bersamaan, akan muncul suatu perasaan. Jika pikiran telah siap untuk damai, ia akan terkurung dalam sebuah tempat yang penuh kedamaian, seperti seekor ayam yang kita masukkan ke dalam sebuah kandang. Ayam itu tidak dapat keluar dari kandang, tetapi ia bisa berjalan maju dan mundur di dalam kandang. Berjalan maju dan mundur bukanlah suatu masalah, selama ia berjalan maju dan mundur di dalam kandang. Perasaan akan pikiran ketika kita menggunakan perhatian penuh untuk menjaganya agar tetap damai, perasaan dalam tempat penuh kedamaian, bukanlah sesuatu yang akan membangunkan kita. Dengan kata lain, ketika ia merasa, ketika ia berpikir, biarkan ia merasa dalam kedamaian. Hal ini tidak menjadi masalah.

 

94.    Seorang Anak Nakal
Ini seperti jika seorang anak nakal sedang bercanda, mengganggu kita hingga kita harus meneriaki dan memukulnya. Kita harus memahami bahwa itu sematamata hanyalah sifat dari anak tersebut. Ketika kamu memahami hal ini, kamu akan membiarkan anak itu pergi dan bermain. Perasaan susah dan terganggumu akan menghilang karena akan berniat menerima sifat anak tersebut. Itulah seharusnya bagaimana perasaanperasaanmu terhadap kondisi yang berubah. Ketika kita menerima sifat alami dari segala sesuatu, kita dapat membiarkan mereka pergi, meninggalkan mereka sendiri. Pikiran kita akan dapat tenang dan damai. Hal ini berarti kita telah paham sepenuhnya. Kita memiliki pandangan yang benar. Itulah akhir dari masalah yang harus kita selesaikan.

 

95.    Tinggal Bersama Seekor Kobra
Ingatlah hal ini: Semua objek pikiran, tanpa peduli apakah itu adalah hal yang kamu suka atau yang tidak kamu suka, adalah seperti kobra yang beracun. Jika mereka menyerang dan menggigitmu, kamu akan meninggal. Objek-objek pikiran seperti kobra yang memiliki racun sangatlah tangguh. Objek-objek yang kita suka mengandung banyak racun. Objek-objek yang tidak kita suka juga mengandung banyak racun. Mereka dapat menjauhkan pikiran kita dari kebebasan. Mereka dapat membuat pikiran tersesat dari prinsip-prinsip Buddha Dhamma.

 

96.    Tinggalkan Kobra Itu Sendiri
Objek-objek dan suasana pikiran adalah seperti kobra beracun yang galak. Jika tidak ada sesuatu yang menghadang jalan kobra tersebut, maka ia akan merayap pergi sesuai dengan sifatnya. Meskipun ia mengandung racun, ia tidak memperlihatkannya. Ia tidak berbahaya karena kita tidak di dekatnya. Kobra itu hanya merayap pergi sesuai dengan urusan kobra itu sendiri. Ia akan terus merayap di jalannya. Jika kamu cerdas, kamu akan meninggalkan segala hal sendiri. Kamu akan meninggalkan hal-hal baik sendirian; kamu akan meninggalkan hal-hal buruk sendirian; kamu akan meninggalkan hal-hal yang kamu suka sendirian; sama seperti kamu meninggalkan seekor ular kobra beracun sendirian. Kamu biarkan ia merayap pergi di jalannya sendiri. Ular itu merayap pergi meskipun ia membawa racun.

 

97.    Sebuah Oven
Mencoba untuk melihat suatu hal dengan jelas di dalam dirimu: Itu dinamakan paccattam. Apapun objek yang di luar datang dan membuat kontak, ia akan selalu menjadi paccattam tanpa berhenti. Untuk meletakkan dalam istilah sederhana, ia seperti membakar arang atau balok kayu. Pernahkah kamu melihat sebuah oven untuk membakar arang atau balok kayu? Mereka membangun sebuah api yang besar sekitar satu meter di bagian luar mulut oven, dan oven tersebut akan menghasilkan asap dan api dengan sendirinya di bagian dalam. Lihatlah dengan cara ini. Akan terlihat jelas dengan cara ini. Ini adalah sebuah perbandingan. Jika kamu membangun ovenmu untuk membakar arang atau balok kayu dengan cara yang benar, dengan spesifikasi yang benar, kamu membangun api sebesar satu meter atau satu setengah meter di bagian luar mulut oven. Ketika asapnya mulai muncul, ia akan mengalir masuk ke dalam oven, tanpa ada yang tertinggal di luar. Panas akan masuk, mengisi bagian dalam oven, dan tidak lari keluar. Panas akan masuk dan membakar benda-benda dengan sangat cepat. Itulah caranya. Sama halnya dengan perasaan seseorang yang berlatih: Terdapat sebuah perasaan bahwa segala sesuatu berubah menjadi pandangan benar. Mata melihat bentuk-bentuk, telinga mendengar suara-suara, hidung mencium aroma-aroma, lidah mencicip rasa-rasa, dan semua hal itu berubah menjadi  pandangan benar. Akan terdapat sebuah kontak yang menyebabkan timbulnya kebijaksanaan yang akan berlangsung terus menerus sepanjang waktu.

 

98.    Mangga yang Jatuh
Gunakan ketenanganmu untuk merenungi penglihatan, suara, bebauan, rasa, sensasi sentuhan, dan buah-buah pikiran yang membuat kontak, tidak peduli apakah mereka baik atau buruk, gembira atau sedih. Hal ini sama seperti seseorang yang memanjat sebuah pohon mangga dan menggoyangkannya sehingga manggamangga berjatuhan ke tanah. Kita berada di bawah pohon, mengumpulkan mangga-mangga tersebut. Kita tidak mengambil mangga yang busuk. Kita hanya mengambil mangga yang bagus. Hal ini tidak membuang tenaga kita karena kita tidak memanjat pohon mangga tersebut. Kita hanya mengambil apa yang ada di atas tanah.

 

99.    Laba-laba
Saya mendapatkan sebuah contoh yang bagus dari mengamati laba-laba. Seekor laba-laba membuat sebuah sarang yang seperti sebuah jaring. Dia menenun sarangnya dan membentangkannya ke berbagai tempat terbuka. Ketika itu saya duduk dan merenung. Ia menggantungkan sarangnya seperti sebuah layar film, dan ketika ia sudah selesai ia menggulung dirinya sendiri naik ke atas tepat di tengah-tengah jaring. Laba-laba itu tidak berjalan kesana kemari. Segera ketika seekor lalat atau serangga lainnya terbang ke dalam jaringnya, maka jaringnya akan bergetar. Segera ketika jaringnya bergetar, laba-laba itu akan lari keluar dari tempatnya dan menangkap serangga tersebut sebagai makanan. Ketika ia selesai, ia menggulung tubuhnya kembali ke tengah-tengah jaring sama seperti sebelumnya. Tidak masalah apapun jenis serangga yang tertangkap oleh jaringnya, seekor lebah atau apapun juga: Sepanjang jaring tersebut bergetar, laba-laba itu akan segera berlari untuk menangkapnya. Kemudian ia akan balik kembali dan berdiam, tenang di tengah-tengah jarring dimana tidak ada seorang pun yang dapat melihatnya, setiap waktu. Melihat laba-laba yang berlaku seperti ini, saya mencapai sebuah pemahaman. Enam jangkauan indera adalah mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran. Pikiran berdiam di tengah. Mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh menyebar keluar seperti sebuah jaring. Objek-objek indera seperti serangga. Segera ketika sebuah penglihatan datang ke mata, atau sebuah suara datang ke telinga, sebuah aroma ke hidung, sebuah rasa ke lidah, atau sebuah sensasi sentuhan ke tubuh, pikiran yang akan mengetahuinya. Segala sesuatu bergetar menuju ke pikiran. Hanya dengan ini saja cukup untuk menyebabkan timbulnya sebuah pemahaman. Kita dapat hidup dengan bergelung di dalam, seperti laba-laba yang bergelung di dalam jaringnya. Kita tidak perlu pergi kemana-mana. Ketika serangga datang menuju jaring dan jaringnya bergetar menuju ke hati, kemudian segera ketika kita sadar kita keluar dan menangkap serangga tersebut. Kemudian kita kembali ke tempat semula. Setelah mengamati laba-laba, kamu dapat menggunakan apa yang telah kamu pelajari di pikiranmu. Ini adalah hal yang sama. Jika pikiran melihat ketidak-kekalan, penderitaan, dan tanpa-aku, ia akan menyebar keluar. Ia tidak lagi menjadi pemilik kebahagiaan, tidak lagi menjadi pemilik penderitaan, selama ia melihat jelas dengan cara ini. Ia akan mencapai titik itu. Apapun yang kamu lakukan, kamu tetap damai. Kamu tidak menginginkan hal apapun lagi. Meditasimu tidak lain tidak bukan telah mencapai kemajuan.

 

100.    Ayam Liar
Saya akan memberikan kamu sebuah contoh sederhana. Ini seperti ayam-ayam liar. Kita semua tahu bahwa ayam-ayam liar itu serupa. Tidak ada hewan lainnya yang lebih bersikap hati-hati terhadap manusia. Ketika pertama kali saya datang ke hutan ini, saya memikirkan ayam-ayam liar tersebut. Saya mengamati mereka dan mempelajari berbagai hal dari mereka. Pada awalnya hanya seekor dari mereka yang akan datang dekat saya ketika saya sedang bermeditasi jalan. Kita dia datang mendekat, saya tidak melihat ke arahnya. Apapun yang ia lakukan, saya tidak melihat ke arahnya. Saya tidak membuat gerakan apapun yang akan mengejutkannya. Setelah suatu waktu saya mencoba berhenti diam dan melihat padanya. Segera ketika mata saya tertuju padanya, ayam itu langsung lari pergi. Ketika saya berhenti melihat padanya, ia akan mulai mencakar-cakar tanah, mencari makanan seperti sebelumnya. Tetapi setiap kali saya melihat ke arahnya, dia akan lari menjauh. Setelah suatu waktu ia mungkin menyadari betapa tenang saya sebelumnya, jadi ia menurunkan pertahanannya. Tetapi segera ketika saya melemparkan sedikit beras ke arahnya, ia lari pergi. Tetapi saya tidak peduli. Saya tetap melempar sedikit beras. Setelah suatu waktu ia akan kembali, tetapi ia tidak berani memakan beras tersebut. Ia tidak tahu apa itu sebelumnya. Ia berpikir saya berencana membunuhnya dan memasak kari. Tetapi saya tidak peduli apakah ia memakan beras tersebut atau tidak. Setelah suatu waktu ayam tersebut kembali mencakar-cakar di sekitar tanah itu lagi. Ia mungkin mulai memperoleh bagaimana rasa beras itu. Hari berikutnya ia datang kembali ke tempat yang sama dan memperoleh beras untuk dimakan. Ketika berasnya sudah habis, saya melemparkan sedikit beras kepadanya. Ia lari pergi lagi. Tetapi ketika saya terus melakukan hal ini berulang kali, ia hanya akan berjalan pergi sedikit jauh dan kemudian kembali lagi kesini dan memakan berasnya. Saat itulah ia mengerti. Pada mulanya ayam tersebut melihat beras sebagai sebuah musuh karena ia tidak mengenalnya. Ia tidak melihatnya dengan jelas. Karena itu ia terus lari menjauh. Tetapi ketika ia tumbuh semakin jinak, ia datang kembali untuk melihat sesungguhnya beras itu apa. Pada saat itulah dia tahu, “Ini adalah beras. Ini bukanlah sebuah musuh. Ini tidak berbahaya.” Demikianlah bagaimana ayam-ayam liar itu datang ke sini untuk memakan beras sejak hari itu hingga saat ini. Dengan cara ini saya mengambil sebuah pelajaran dari ayam-ayam liar. Kita sama saja seperti mereka. Penglihatan, suara, bebauan, rasa, sensasi sentuhan, dan buah-buah pikiran adalah sebagai alat untuk memberikan kita pengetahuan akan Dhamma. Mereka memberikan pelajaran kepada semua orang yang berlatih. Jika kita melihat mereka dengan jelas sesuai dengan kebenaran, kita akan melihat bahwa demikianlah sebagaimana adanya mereka. Jika kita tidak melihatnya dengan jelas, mereka akan selalu menjadi musuh kita, dan kita akan terus lari menjauh dari mereka sepanjang waktu.

 

101.    Monyet
Mari saya berikan kamu sebuah contoh. Anggap kamu memiliki seekor monyet peliharaan di rumah. Ia tidak sedang duduk diam. Ia suka melompat kesana kemari dan mengambil ini dan itu –semua jenis benda. Itulah sebagaimana adanya monyet. Sekarang kamu datang ke vihara. Kami memiliki seekor monyet juga disini, dan monyet ini juga tidak mau diam. Ia melompat kesana kemari dan mengambil barang-barang sama seperti monyet di rumah, tetapi ia tidak membuatmu merasa terganggu bukan? Mengapa? Karena kamu telah mempunyai seekor monyet. Kamu tahu apa yang suka monyet lakukan. “Monyet yang ada di rumah saya juga sama seperti monyet disini di vihara. Monyetmu seperti monyetku. Mereka adalah monyet yang sama.” Bahkan jika kamu hanya mengenal satu monyet, tidak peduli ke provinsi manapun kamu pergi, tidak peduli berapa banyak monyet yang kamu lihat, mereka tidak akan membuatmu merasa terganggu bukan? Itulah orang yang memahami monyet. Jika kita memahami monyet maka kita tidak akan menjadi monyet. Jika kamu tidak memahami monyet maka segera ketika kamu melihat seekor monyet, kamu akan menjadi seekor monyet itu sendiri, bukan? Ketika kamu melihat ia mengambil ini dan itu, kamu berpikir, “Grrr!” Kamu menjadi marah dan merasa terganggu. “Monyet sialan itu!” Itulah seseorang yang tidak memahami monyet. Seseorang yang memahami monyet melihat bahwa monyet di rumah dan monyet di Wat Tham Saeng Phet adalah monyet yang sama, jadi mengapa mereka membuatmu merasa terganggu? Ketika kamu melihat bahwa demikian sebagaimana adanya monyet berlaku, itu sudah cukup. Kamu dapat berada dalam kedamaian. Jika monyet tersebut berlari ke sana kemari, ia hanyalah monyet yang sedang berlari. Kamu tidak menjadi seekor monyet juga. Kamu berada dalam kedamaian. Jika ia melompat ke depanmu dan ke belakangmu, kamu tidak merasa terganggu oleh monyet tersebut. Mengapa? Karena kamu memahami monyet, dan karenanya kamu tidak menjadi seekor monyet. Jika kamu tidak memahami monyet, kamu akan merasa terganggu. Ketika kamu merasa terganggu, kamu menjadi seekor monyet –paham? Inilah bagaimana segalanya berkembang menjadi ketenangan. Ketika kita mengenali objek-objek indera, amati objek-objek tersebut: Beberapa menyenangkan, beberapa tidak, meskipun demikian terus kenapa? Itu adalah urusan mereka sendiri. Itu adalah apa yang mereka suka. Sama seperti monyet. Semua monyet adalah monyet yang sama. Kita memahami objek-objek indera. Terkadang mereka menyenangkan, terkadang tidak. Itu adalah sebagaimana adanya mereka. Kita harus mengenali mereka. Ketika kita mengenali mereka, kitaakan melepas mereka. Objek-objek indera bukanlah hal yang pasti. Mereka tidak kekal, penuh kesedihan, dan tanpa-aku. Kita tetap memandang mereka dengan cara ini. Ketika mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran menerima objek-objek yang datang masuk, kita mengenali mereka, sama seperti melihat monyet. Monyet ini sama saja seperti monyet di rumah. Maka kita akan berada pada kedamaian.

 

102.    Pohon Menarik Dirinya Sendiri ke Bawah
Ketamakan dan nafsu keinginan membawa kita ke penderitaan. Tetapi jika kita merenung, renungan kita keluar dari ketamakan. Ia merenungkan ketamakan, dan ia menarik keluar ketamakan, mengguncangkannya, sehingga ketamakan itu pergi jauh atau berkurang dengan sendirinya. Sama seperti sebuah pohon. Apakah ada seseorang yang memberitahukan kepada pohon itu apa yang harus ia lakukan? Apakah ada seseorang yang memberikan petunjuk? Kamu tidak bisa memberitahu pohon apa yang harus ia lakukan. Kamu tidak bisa membuatnya melakukan apapun. Tetapi pohon itu akan menarik bersandar keluar dan menarik dirinya ke bawah. Ketika kamu melihat segala hal dalam cara ini, itulah Dhamma.

 

103.    Mengangkat Beban
Perhatian penuh dan kesadaran adalah seperti dua orang yang sedang mengangkat sebatang balok berat. Orang ketiga memperhatikan dan ketika dia melihat balok itu berat, dia datang untuk membantu. Ketika balok itu berat seperti itu, dia tidak dapat tidak membantu. Dia harus membantu. Orang yang membantu ini adalah kebijaksanaan. Ia tidak dapat tinggal diam. Ketika terdapat perhatian penuh dan kesadaran, kebijaksanaan harus masuk dan bergabung dengan mereka.

 

104.    Sebotol Air, Mata Air
Sama seperti ketika memasukkan air ke dalam sebuah botol dan memberikannya kepada seseorang untuk diminum. Ketika orang tersebut selesai meminumnya, dia akan harus datang kembali dan meminta lebih –karena air itu bukanlah air di mata air. Itu adalah air di dalam sebuah botol. Tetapi jika kamu menunjukkan mata air ke orang tersebut dan memberitahukannya untuk mengambil air di sana, dia bisa duduk di sana dan terus meminum air dan tidak akan meminta air lagi padamu, karena air itu tidak akan pernah habis. Sama seperti ketika kita melihat ketidak-kekalan, penderitaan, dan tanpa-aku. Hal ini akan masuk ke dalam, kita menjadi benar-benar tahu, kita tahu asal mula segala hal. Pengetahuan biasa tidak akan mengetahui asal mula segala hal. Jika kita mengetahui asal mula segala hal, ia tidak akan pernah menjadi tidak berguna. Apapun yang muncul, kita mengetahuinya dengan benar –dan segala sesuatu akan bubar. Kita mengetahui dengan benar tanpa berhenti.

 

105.    Air Tenang yang Mengalir
Pernahkah kamu melihat air yang mengalir? Pernahkah kamu melihat air tenang? Jika pikiranmu damai, ia akan seperti air tenang yang mengalir. Pernahkah kamu melihat air tenang yang mengalir? Tepat! Kamu hanya pernah melihat air mengalir dan air tenang. Kamu tidak pernah melihat air tenang yang mengalir. Tepat disana, tepat dimana pikiranmu tidak dapat membawamu: dimana pikiran tenang tetapi dapat mengembangkan kebijaksanaan. Ketika kamu melihat ke dalam pikiranmu, itu akan seperti air mengalir, dan tetap tenang. Ia terlihat seperti ia tenang, ia terlihat seperti ia mengalir, jadi ia disebut air tenang yang mengalir. Inilah sebagaimana adanya dia. Disitulah dimana kebijaksanaan dapat timbul.

 

106.    Batang Kayu di Kanal
Sama seperti memotong sebatang kayu, melemparkannya ke dalam sebuah kanal, dan membiarkannya mengalir bersama air di dalam kanal. Jika ia tidak dimakan oleh ulat, tidak busuk, tidak terbentur, tidak tersandung tepian sini atau tepian sana, ia akan terus mengalir sepanjang kanal. Saya yakin pada akhirnya ia akan mencapai lautan. Hal ini sama seperti kita. Jika kita berlatih sesuai dengan ajaran Sang Buddha, jika kita mengikuti jalan yang beliau ajarkan, jika kita dengan benar mengikuti arus, kita akan menghindari dua hal. Apakah dua hal itu? Dua hal ekstrim yang Buddha katakan agar perenungan jangan sampai terikat kedalamnya. Yang pertama adalah pemuasan nafsu indera. Yang kedua adalah penyiksaan diri. Ini adalah dua tepian kanal, sungai tersebut. Batang kayu yang mengalir di sungai, mengikuti arus air, adalah pikiran kita.

 

107.    Gelombang Datang Menuju ke Pantai
Penderitaan dan tekanan mental adalah sesuatu yang tidak pasti. Mereka tidak kekal. Ingatlah terus hal ini dalam pikiran. Ketika kedua hal tersebut muncul, kita telah mengetahuinya sekarang dan melepaskannya. Kekuatan pikiran akan secara perlahan-lahan melihat lebih dalam dan dalam. Ketika ia tumbuh menjadi lebih tabah, ia dapat menumpas kekotoran batin dengan cepat. Seiring berlalunya waktu, apapun yang muncul di sini akan bubar di sini, seperti gelombang laut yang datang ke pantai. Segera ketika mereka mencapai pantai mereka akan segera menghilang sama sekali. Sebuah gelombang baru datang dan ia akan menghilang juga. Gelombang itu tidak dapat melewati pantai. Ketidakkekalan, penderitaan, dan tanpa-aku adalah pantai laut tersebut. Sedangkan objek-objek indera yang datang melalui, hanyalah berakhir sampai di sana saja bagi mereka.

 

108.    Gergaji
… Tetapi ketika pikiran melihat dan mengetahui segala hal, ia tidak membawa Dhamma bersamanya. Seperti gergaji ini: Mereka akan menggunakannya untuk memotong kayu. Ketika semua kayu selesai dipotong dan segala sesuatu selesai dikerjakan, mereka meletakkan gergaji tersebut. Mereka tidak perlu untuk menggunakannya lagi. Gergaji itu adalah Dhamma. Kita harus menggunakan Dhamma untuk berlatih jalan-jalan yang membawa kita pada pencerahan. Ketika pekerjaan itu telah selesai, kita meletakkan Dhamma itu di sana. Seperti sebuah gergaji digunakan untuk memotong kayu: Mereka memotong potongan ini, memotong potongan itu. Ketika mereka semua selesai memotong, mereka meletakkan gergaji itu di sana. Ketika saat itu terjadi, gergaji haruslah menjadi gergaji; kayu haruslah menjadi kayu. Inilah yang dinamakan mencapai titik penghentian, titik yang sangatlah penting. Itu adalah akhir dari pemotongan kayu. Kita tidak perlu memotong kayu, karena kita telah cukup memotong. Kita ambil gergaji itu dan meletakkannya di sana.

 

Sumber : “In Simple Terms: 108 Perumpamaan Dhamma”, oleh Ajahn Chah, diterjemahkan dari bahasa Thailand oleh Bhikkhu Thanissaro. Access to Insight, 4 April 2011, http://www.accesstoinsight.org/lib/thai/chah/insimpleterms.html.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*