108 Perumpamaan Dhamma Bagian 5

 73.    Tangan
Mereka yang mempelajari teks dan mereka yang berlatih Dhamma cenderung saling salah mengerti satu sama lain. Mereka yang mempelajari teks akan berkata, “Para bhikkhu yang tidak melakukan hal lain selain berlatih sesungguhnya berbicara berdasarkan pandangan mereka sendiri.” Mereka mengatakan hal tersebut tanpa berdasarkan bukti apapun. Sesungguhnya ada sebuah jalan dimana kedua pihak merupakan hal yang sama, yang akan membantu kita memahami segala sesuatu dengan lebih baik. Seperti telapak tangan kita dan punggung tangan kita. Ketika kamu meluruskan tanganmu ke depan, maka kelihatannya telapak tanganmu menghilang. Tetapi sesungguhnya telapak tersebut tidak hilang kemana-mana. Ia hanya tersembunyi di bawahnya. Dalam cara yang sama, ketika kamu memutar telapak tanganmu ke atas, maka punggung tanganmu menghilang. Tetapi sesungguhnya punggung tersebut tidaklah menghilang kemana. Ia hanya berada di bawahnya. Kamu harus mengingat hal ini ketika kamu berlatih meditasi. Jika kamu berpikir bahwa latihanmu telah merosot, kamu berhenti belajar dan atur harapanmu untuk memperoleh hasil. Tetapi tidak peduli berapa banyak kamu telah mempelajari Dhamma, kamu tidak akan pernah memahaminya karena kamu belum sejalan dengan kebenaran. Begitu kamu memahami sifat sesungguhnya dari Dhamma, kamu akan mulai melepas. Ini adalah suatu keinginan untuk melucuti kemelekatan, dimana kamu tidak melekat pada suatu hal apapun lagi. Atau jika kamu masih melekat, maka ia secara bertahap akan semakin berkurang dan berkurang. Inilah perbedaan antara belajar dan berlatih.

 

74.    Kata-kata yang Tertulis
Berhenti. Letakkan pengetahuan ilmiahmu di dalam sebuah bundelan atau sebuah koper besar. Jangan bawa ia keluar untuk dibicarakan. Kamu tidak dapat membawa jenis pengetahuan seperti itu ke sini. Di sini adalah satu jenis pengetahuan yang baru. Ketika suatu keadaan sungguh-sungguh muncul, ia tidak akan sama dengan keadaan lainnya. Ini sama seperti menuliskan kata, “ketamakan”. Ketika ketamakan muncul di hati, ini tidak sama dengan kata yang tertulis tersebut. Sama halnya ketika kamu marah: Ketika kamu menulis “marah” pada papan tulis, maka ia adalah suatu hal. Ia adalah kumpulan huruf. Ketika ia muncul di hati, maka akan terlalu cepat bagi kamu untuk bisa membaca sesuatu. Ia muncul begitu saja di hati. Hal ini penting. Sangat penting.

 

75.    Jatuh dari Sebuah Pohon
… Mengenai hukum sebab akibat yang saling bergantungan. “Kegelapan batin adalah kondisi bagi timbulnya bentukkan kehendak. Bentukkan kehendak adalah kondisi bagi timbulnya kesadaran. Kesadaran adalah kondisi bagi timbulnya nama dan rupa.” Kita telah mempelajari hal ini dan menghapalkannya, dan benar, hukum sebab akibat yang saling bergantungan ini telah dibagi oleh Sang Buddha seperti ini untuk dipelajari oleh para murid. Tetapi ketika sebab akibat ini muncul, mereka akan menjadi terlalu cepat bagi kamu untuk menghitungnya. Sama seperti terjatuh dari puncak sebuah pohon –bruk!- kamu sampai ke tanah. Kita tidak tahu cabangmana saja yang telah kita lewati. Saat dimana pikiran menemukan sebuah objek baik, jika objek itu adalah sesuatu yang disukai pikiran, maka objek tersebut akan dikategorikan “baik”. Pikiran tidak tahu urutan-urutan yang saling berhubungan di dalamnya. Pikiran berjalan sesuai dengan yang diucapkan dalam teks, tetapi mereka juga keluar dari teks. Pikiran tidak berkata, “Saat ini adalah kegelapan batin. Saat ini adalah bentukkan kehendak. Saat ini adalah kesadaran. Saat ini adalah nama dan rupa.” Mereka tidak punya tanda-tanda bagi kamu untuk dibaca. Sama seperti terjatuh dari sebuah pohon. Sang Buddha berbicara mengenai kondisi mental secara terperinci, tetapi saya menggunakan perbandingan seperti terjatuh dari sebuah pohon. Ketika kamu tergelincir dari sebuah pohon – bruk!- kamu tidak dapat mengukur berapa kaki dan inci kamu telah terjatuh. Yang kamu tahu hanyalah kamu jatuh menabrak tanah dan merasa kesakitan.

 

76.    Pisau
Melatih tubuh dengan tujuan memperkuatnya dan melatih pikiran dengan tujuan memperkuatnya adalah suatu hal yang sama, tetapi menggunakan metode yang berbeda. Dalam melatih tubuh, kamu harus menggerakkan berbagai bagian-bagian tubuh yang berbeda, tetapi dalam melatih pikiran kamu membuatnya berhenti dan beristirahat, seperti ketika kamu melakukan konsentrasi. Cobalah agar pikiran melepas segala sesuatu. Jangan memikirkan masalah ini, masalah itu, atau mengenai apapun juga. Biarkan pikiran tetap pada satu objek. Maka kemudian pikiran akan menjadi kuat. Kebijaksanaan akan timbul. Sama seperti memiliki sebuah pisau yang harus kamu jaga agar tetap tajam. Jika kamu terus menggunakannya untuk memotong batu, memotong balok, memotong rumput, memotong apa saja, maka pisau itu akan kehilangan ketajamannya.

 

77.    Belajar Menulis
Pastikan kamu berlatih setiap hari, setiap hari. Ketika kamu merasa malas, tetap berlatih. Ketika kamu merasa rajin, tetap berlatih. Berlatih Dhamma baik itu siang ataupun malam. Ketika pikiran sedang tenang, tetap berlatih. Ketika pikiran sedang tidak tenang, tetap berlatih. Hal ini sama seperti ketika kamu masih seorang anak kecil yang sedang belajar bagaimana cara menulis. Pada awalnya huruf-hurufmu tidak akan terlihat bagus. Ada yang badannya terlalu panjang; ada yang kakinya terlalu panjang. Kamu menulis seperti layaknya seorang anak kecil. Meskipun demikian, seiring waktu, huruf-huruf itu akan menjadi semakin bagus karena kamu terus berlatih.

 

78.    Anak Kecil & Orang Dewasa
Perhatian penuh dan kebijaksanaan harus berjalan bersama. Di tahap pertama, pikiran akan masuk ke dalam kondisi tenang dan sunyi dengan cara perhatian penuh. Pikiran akan bisa tetap tenang hanya ketika kamu duduk dengan mata tertutup. Itu adalah ketenangan. Kamu akan tergantung pada perhatian penuh sebagai sebuah dasar yang membantumu membangkitkan kebijaksanaan atau pencerahan pada akhirnya. Jika telah demikian maka pikiran akan tetap tenang baik ketika kamu sedang duduk dengan mata tertutup ataupun ketika berjalan di tengah hiruk pikuk kota. Sama seperti ini: Dulu kamu adalah seorang anak kecil. Sekarang kamu adalah seorang dewasa. Anak kecil dan orang dewasa itu adalah orang yang sama. Dengan cara yang sama, kamu dapat mengatakan bahwa ketenangan dan pencerahan adalah hal yang berbeda. Atau seperti makanan dan tahi: Kamu dapat mengatakan mereka adalah hal yang sama, tetapi bila dilihat dari sudut yang lain kamu bisa mengatakan bahwa meraka adalah hal yang berbeda.

 

79.    Sebatang Tongkat
Meditasi seperti sebatang tongkat. Pencerahan terdapat pada ujung tongkat tersebut. Ketenangan terdapat pada ujung satunya lagi. Jika kamu mengangkat tongkat ini, apakah hanya satu ujung tongkat yang terangkat, atau kedua ujung tongkat tersebut? Jika kamu mengangkatnya, maka kedua ujung tongkat tersebut akan ikut terangkat juga. Apakah itu pencerahan, apakah itu ketenangan, itu semua adalah pikiran ini.

 

80.    Melukis Sebuah Gambar
Keberhasilan dalam latihan adalah berkaitan dengan kebijaksanaan: meditasi pencerahan, dimana kebijaksanaan dan pikiran berdiam bersama. Beberapa orang tidak perlu melakukan usaha yang keras dan kedua hal ini muncul bersama dengan sendirinya. Orang
yang memiliki kebijaksanaan tidak perlu melakukan usaha sama sekali. Perhatian penuh sama seperti menjadi seorang seniman. Kamu melihat pada suatu objek dan kamu memahaminya. Kamu memahaminya hingga objek itu tinggal di dalam hatimu. Kamu dapat melukis keluar sebuah gambar yang ada di hatimu. Kamu tidak perlu duduk tepat di depan objek tersebut dan melukis dengan memandangnya. Orang yang belum paham adalah orang yang harus duduk di depan objek tersebut dan mensketsanya hingga meresap ke dalam hatinya. Dengan kebijaksanaan kamu tidak perlu duduk di sana dan mensketsanya. Kamu melihat dan kamu memahami. Kamu dapat melukiskannya sebagai hasil dari pemahamanmu. Demikianlah hal ini berjalan.

 

81.    Makanan Yang Kamu Suka
Objek meditasi untuk mencapai ketenangan, jika tidak sesuai dengan karaktermu, tidak akan menghasilkan timbulnya kebebasan akan nafsu atau menghilangkan kecemasan. Objek yang sesuai dengan sifatmu adalah hal yang kamu rasa paling sering kamu pikirkan. Seringkali kita tidak menyadarinya, tetapi kita harus menyadari hal ini agar kita bisa mengambil manfaat darinya. Hal ini sama seperti berbagai macam makanan yang disusun di atas sebuah meja. Kamu mencicipi makanan dari setiap mangkok, setiap jenis makanan, dan kamu akan menemukan bagi dirimu sendiri makanan mana yang paling kamu suka, mana yang tidak kamu suka. Kamu akan mengatakan bahwa makanan yang kamu suka lebih enak dibandingkan yang lainnya. Ini yang saya katakan mengenai makanan. Kamu dapat membandingkannya dengan meditasimu. Objek manapun yang sesuai dengan karaktermu akan membuatmu merasa nyaman.

 

82.    Menangkap Seekor Kadal
Cara untuk memusatkan pikiranmu pada sebuah objek, untuk menangkap dan memegang pada objek tersebut, adalah dengan memperkenalkan dirimu dengan pikiranmu dan memperkenalkan dirimu dengan objekmu. Hal ini sama caranya seperti laki-laki yang menangkap seekor kadal. Kadal tersebut berdiam di dalam cekungan sebuah sarang rayap yang memiliki enam lubang. Laki-laki itu menutup lima lubang, meninggalkan hanya satu lubang saja bagi si kadal untuk keluar. Kemudian dia duduk mengawasi satu lubang tersebut. Ketika kadal tersebut keluar, dia menangkapnya. Kamu memfokuskan pikiranmu dengan cara yang sama. Tutup matamu, tutup telingamu, tutup hidungmu, tutup lidahmu, tutup badanmu, dan biarkan hanya pikiranmu yang terbuka. Dengan kata lain, berlatihlah untuk menahan nafsu inderamu dan pusatkan hanya pada pikiran. Meditasi adalah seperti laki-laki yang menangkap seekor kadal. Kamu pusatkan pikiranmu pada nafas, menjadi penuh perhatian dan tetap sadar. Apapun yang kamu lakukan, kamu sadar apa yang kamu lakukan. Perasaan yang muncul di pikiran pada saat itu adalah bahwa kamu sadar apa yang kamu sedang lakukan. Perasaan itu adalah yang membuat kamu sadar.

 

83.    Tetesan Air, Arus Air
Mulai dari merenungkan pikiranmu sendiri. Selalu bersungguh-sungguh menjaga lima pedoman perilaku. Jika kamu membuat suatu kesalahan, berhenti, putar balik, dan mulai kembali. Mungkin kamu akan tersesat dan membuat kesalahan lainnya. Ketika kamu menyadari hal tersebut, putar balik, mulai kembali, setiap kali dan setiap waktu. Perhatian penuh kamu akan mencapai tingkat yang lebih tinggi, seperti air yang dituangkan dari sebuah teko. Jika kita memiringkan teko tersebut hanya sedikit, air akan keluar dalam bentuk tetesan: tes… tes… tes…. Ada jeda dalam aliran. Jika kita memiringkan teko itu lagi, maka tetesan air akan menjadi lebih sering: tes- tes – tes. Jika kita miringkan lagi bahkan suara tetesan itu akan hilang dan air berubah menjadi sebuah arus yang bersambungan. Tidak ada lagi tetesan-tetesan, tetapi mereka tidaklah hilang kemana. Tetesan itu menjadi sangat cepat sehingga mereka berubah menjadi sebuah arus air yang bersambungan. Mereka menjadi sangat cepat karena mereka terlalu cepat. Mereka bercampur menjadi satu kesatuan membentuk sebuah arus air.

 

84.    Menggembalakan Kerbau
… Sama seperti latihan. Ketika kita terus memperhatikan pikiran kita, ketika kesadaran terus mengamati pikiran itu sendiri, siapapun yang terus memperhatikan pikiran akan terhindarkan dari perangkap Mara.
Hal ini sama seperti menggembalakan seekor:
Satu, tanaman padi;
Dua, kerbau;
Tiga, pemilik kerbau.
Kerbau ingin makan tanaman padi. Tanaman padi adalah apa yang ingin dimakan oleh kerbau. Pikiran adalah seperti kerbau. Objek-objek pikiran adalah seperti tanaman padi. Kesadaran adalah seperti pemilik kerbau. Ketika kita sedang menggembalakan seekor kerbau, kita harus mengikutinya untuk memastikan ia tidak memakan padi. Jika kita kehilangan kerbau itu, maka kita akan terus mencarinya. Jika kerbau itu mendekat ke tanaman padi, kita meneriakinya. Ketika kerbau tersebut mendengar kita, ia akan mundur kembali. Tetapi kita tidak boleh puas. Setidaknya, jangan tidur siang di tengah hari tersebut. Jika kamu tidur siang di tengah hari, padi tersebut pastilah akan lenyap.

 

85.    Memukul Kerbau
Pikiran itu seperti kerbau. Objek pikiran seperti tanaman padi. Kesadaran seperti pemilik kerbau. Apa yang kamu lakukan ketika kamu sedang menggembalakan seekor kerbau? Kamu kehilangan kerbau tersebut, maka kamu akan terus mencarinya hingga ketemu. Jika ia dekat dengan tanaman padi, kamu meneriakinya. Ketika kerbau itu mendengarmu, maka ia akan mundur. Tetapi kamu tidak bisa puas. Jika kerbau tersebut keras kepala dan tidak ingin mendengarkanmu, kamu ambil sebuah tongkat yang berat dan benar-benar memukulnya. Jika demikian, menurut kamu, kemana kerbau itu akan pergi?

 

86.    Mengajar Seorang Anak Kecil
… Jadi dalam latihan ini kita diberitahukan untuk duduk. Itulah latihan dengan cara duduk. Dan kemudian kamu terus memusatkan perhatian. Akan ada suasana hati baik dan suasana hati buruk yang bercampur bersama sesuai dengan sifat alami mereka. Janganlah dengan mudah memuji pikiranmu; jangan dengan mudah menghukumnya. Miliki sebuah perasaan waktu dan tempat mengenai hal itu. Ketika tiba waktunya untuk memuji, berikan pikiran sedikit pujian –secukupnya, jangan memanjakan. Hal ini sama seperti mengajar seorang anak kecil. Terkadang kamu harus memukul pantatnya. Ambil sebuah ranting kecil dan pukul anak itu. Kamu tidak bisa tidak memukulnya. Dengan kata lain, terkadang kamu harus menghukumnya. Tetapi kamu tidak bisa terus menghukumnya sepanjang waktu. Jika kamu menghukumnya sepanjang waktu, maka tindakan ini akan menjadi tindakan salah semata. Jika kamu terus menyenangkannya, dengan terus memberinya hadiah-hadiah, tindakan ini juga tidak akan membawa hasil apa-apa.

 

87.    Bentuk Standar
Cara umum untuk duduk berkonsentrasi adalah duduk dengan kedua tungkai kakimu disilangkan, kaki kanan di atas kaki kiri, tangan kanan di atas tangan kiri. Duduk dengan tegak. Beberapa orang mengatakan kamu bisa melakukannya dengan berjalan, kamu bisa
melakukannya dengan duduk, lalu dapatkah kamu melakukannya ketika kamu sedang berlutut? Tentu bisa – tetapi kamu adalah murid yang baru mulai belajar. Ketika kamu belajar menulis, kamu harus berlatih membuat huruf-huruf yang jelas terlebih dahulu, dengan semua bagian-bagiannya. Ketika kamu telah memahami huruf-hurufmu dan kamu menuliskannya untuk dibaca oleh dirimu sendiri, kamu dapat menulis dalam bentuk cakar ayam jika kamu ingin. Itu tidak salah. Tetapi pertama-tama kamu harus belajar huruf yang standar terlebih dahulu.

 

88.    Menabur Beras
Duduk memperhatikan nafas keluar dan masuk. Tetap rileks dan nyaman, tetapi jangan biarkan dirimu teralihkan. Jika kamu teralihkan, berhenti. Amati untuk melihat kemana pikiran pergi dan mengapa pikiran tidak mengikuti nafas. Cari pikiran itu dan bawa kembali. Pastikan pikiran terus menerus berada bersama nafas, dan dalam satu dari beberapa hari ini kamu akan menyeberang ke suatu hal yang bagus. Tetapi tetap lakukan apa sedang kamu lakukan. Tetap perhatikan nafas seperti kamu tidak mengharapkan akan memperoleh sesuatu darinya, tidak ada apapun yang akan terjadi, kamu tidak tahu siapa yang sedang melakukannya –tetapi kamu terus melakukannya. Hal ini sama seperti mengambil beras dari lumbung dan menaburkannya ke tanah. Hal ini terlihat seperti kamu membuang beras itu. Kamu menaburkannya menutupi tanah seperti kamu tidak tertarik terhadap beras itu. Tetapi beras itu akan berubah menjadi tunas dan tanaman. Kamu mengolah tanaman itu menjadi padi, dan sebagai hasilnya kamu memperoleh nasi untuk dimakan. Demikianlah hal ini berlangsung.

 

89.    Mengajar Seorang Anak Kecil
Terkadang nafas kita tidak tepat. Ia terlalu panjang, terlalu pendek, dan membuatmu gila. Itu dikarenakan kamu terlalu kuat dalam memusatkan pikiran, kamu memerasnya terlalu kuat. Hal ini sama seperti mengajarkan seorang anak kecil bagaimana caranya untuk duduk. Jika kamu memukulnya setiap waktu, apakah ia akan menjadi pandai? Kamu terlalu banyak mengendalikannya. Hal yang sama terjadi di sini. Pikirkan: Ketika kamu berjalan dari rumah menuju kebun buah, atau dari rumah menuju tempat kerja, mengapa kamu tidak terganggu oleh nafas? Karena kamu tidak memegang erat padanya. Kamu membiarkannya sendiri sesuai dengan kejadiannya. Bagian-bagian tubuh yang sakit adalah karena kamu fokus dan memusatkan pikiranmu terlalu kuat pada mereka.

 

90.    Mengantar Pulang Seorang Kerabat
Perhatikan nafas. Fokus pada nafas. Himpun pikiran pada nafas. Dengan kata lain, buat pikiran sadar akan nafas di saat ini. Kamu tidak harus sadar banyak hal. Fokus pada menundukkan pikiran, menundukkan pikiran, menjadi lebih dan lebih murni, lebih dan lebih murni, terus menerus, terus menerus, hinggal perasaanakan nafas menjadi sangat lembut, dan pikiran sepenuhnya sadar. Segala rasa sakit yang muncul di tubuh sedikit demi sedikit akan menjadi tenang, sedikit demi sedikit menjadi tenang. Bahkan kamu akan mengamati nafas sebagai seorang kerabat yang datang berkunjung. Kamu pergi bersamanya untuk mengantarkannya hingga ke stasiun bus atau dermaga kapal. Kamu menemaninya hingga ke bus, hingga ke kapal. Ketika mereka menyalakan motor, bus, atau perahu akan berjalan pergi, dan kamu berdiri di sana melihatnya pergi dalam kejauhan. Ketika kerabatmu telah pergi, kamu kembali ke rumah. Ini sama halnya dengan memperhatikan nafas. Ketika nafas sedang buruk, kita tahu. Ketika ia sedang murni, kita tahu. Ketika ia menjadi lebih dan lebih murni, kita tetap memperhatikan, memperhatikan, mengikutinya, menundukkan pikiran, membuat pikiran menjadi lebih dan lebih sadar, membiarkan nafas berkembang menjadi lebih dan lebih murni. Hingga bahkan nafas akan berkembang menjadi sangat halus dimana tidak ada lagi nafas keluar dan masuk. Itulah saatnya yang dinamakan “tersadar”.

 

Bersambung ke bagian 6 >>> 108 Perumpamaan Dhamma Bagian 6

 

Sumber : “In Simple Terms: 108 Perumpamaan Dhamma”, oleh Ajahn Chah, diterjemahkan dari bahasa Thailand oleh Bhikkhu Thanissaro. Access to Insight, 4 April 2011, http://www.accesstoinsight.org/lib/thai/chah/insimpleterms.html.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*