108 Perumpamaan Dhamma Bagian 4

 

55.    Ulat Kaki Seribu
Ketika banyak dari kita datang untuk hidup bersama, akan mudah untuk berlatih jika pandangan kita benar dan sesuai antara satu dengan yang lainnya. Ketika kita bersedia untuk menyerahkan dan meninggalkan keangkuhan kita dalam cara yang sama, kita semua tiba bersama-sama pada tingkat Buddha, Dhamma, dan Sangha. Kamu tidak dapat berkata bahwa memiliki banyak bhikkhu akan menghalangi latihanmu. Sama seperti seekor ulat kaki seribu. Seekor ulat kaki seribu memiliki banyak kaki. Ketika kamu melihatnya, kamu berpikir pasti ulat tersebut akan kebingungan karena mempunyai begitu banyak kaki. Tetapi ulat tersebut berjalan. Ia berjalan maju dan mundur, dan sama sekali tidak ada kebingungan. Ia mempunyai ritmenya sendiri, ketertibannya sendiri. Sama halnya dengan ajaran-ajaran Sang Buddha: jika kamu berlatih sebagaimana layaknya seorang murid Sang Buddha, maka akan mudah. Dengan kata lain, kamu berlatih dengan benar, berlatih dengan jujur, berlatih untuk mencapai pembebasan dari penderitaan, dan berlatih dengan tepat. Meskipun ada seratus kita, seribu kita, berapa banyakpun kita, tidak akan menjadi masalah. Kita semua dapat masuk ke dalam arus yang sama.

 

56.    Menyapu
Kegiatan sehari-hari kita memberikan kita banyak kekuatan. Dimanapun di vihara kamu dapat melakukannya –tanpa peduli apakah ini adalah pondokmu atau pondok orang lain: Jika tempat ini kotor atau berantakan, bersih dan rapikan. Kamu tidak perlu melakukannya demi keuntungan seseorang. Kamu tidak perlu melakukannya untuk mengesankan seseorang. Kamu melakukannya demi kepentingan latihanmu. Ketika kita menyapu pondok kita, menyapu gedung kita, ini sama seperti kita menyapu semua hal-hal kotor dari hati, karena kita adalah orang yang sedang berlatih. Saya ingin setiap orang dari kita memiliki cara berpikir seperti ini di dalam hati. Sehingga kita tidak akan lagi perlu mencari keselarasan atau kerja sama. Hal tersebut akan sudah ada di sana.

 

57.    Menanam Cabai
Sang Buddha guru kita berkata bahwa segala sesuatu berjalan sebagaimana adanya mereka. Jika kita melekat pada usaha kita dalam latihan, kita tidak dapat mengendalikan apakah latihan kita akan berjalan cepat atau lambat. Sama seperti menanam sebuah pohon cabai. Pohon tersebut tahu apa yang dilakukannya. Jika kita menginginkannya tumbuh cepat, kita harus tahu bahwa itu hanyalah suatu khayalan saja. Jika kita menginginkannya tumbuh lambat, kita harus tahu bahwa itu hanyalah suatu khayalan saja. Hanya ketika kita benar-benar menanam pohon cabai tersebut maka kita akan memperoleh buah yang kita inginkan. Ketika kita menanam sebuah pohon cabai, tugas kita adalah menggali sebuah lubang, memberikan pohon tersebut air, memberikan pupuk, menjauhkan serangga darinya. Hanya itu saja. Hanya itu yang tergantung pada kita, tergantung pada pendirian kita. Sedangkan mengenai apakah buah cabainya akan muncul atau tidak, itu tergantung pada pohonnya. Hal tersebut tidak tergantung pada kita. Kita tidak dapat menarik pohon tersebut untuk membuatnya tumbuh.

 

58.    Jalan Menuju Vihara
Kebajikan, konsentrasi, dan kebijaksanaan: ini adalah tiga hal yang disebut Sang Buddha sebagai sebuah jalan. Sang jalan bukanlah agama, dan ia bukanlah tujuan yang sesungguhnya diinginkan oleh Sang Buddha, melainkan merupakan jalan bagi kita untuk sampai ke sana. Sama seperti ketika kamu datang dari Bangkok ke Wat Nong Pah Pong. Kamu tidak menginginkan jalan yang menuju ke sini. Sesungguhnya yang kamu inginkan adalah mencapai vihara ini. Tetapi jalan tersebut diperlukan oleh dirimu untuk bisa sampai kesini. Jalan menuju ke sini bukanlah vihara itu sendiri. Ia hanyalah jalan menuju vihara. Kamu harus mengikuti jalan tersebut untuk bisa sampai ke vihara. Kebajikan, konsentrasi, dan kebijaksanaan adalah jalan menuju kedamaian, dimana kedamaian adalah hal yang sesungguhnya kita inginkan.

 

59.    Obat
…Sama seperti ketika seorang dokter memberikan sebotol obat kepada seorang pasien yang demam. Di bagian luar botol terdapat sebuah label yang memberitahu berbagai macam penyakit yang dapat disembuhkan oleh obat tersebut. Sedangkan obat yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut, terdapat di dalam botol. Jika sang pasien menghabiskan waktunya untuk membaca label –bahkan jika dia membacanya ratusan kali atau ribuan kali- dia akan berakhir dengan meninggal dunia dan tidak akan pernah mendapatkan keuntungan dari obat tersebut. Dia kemudian akan membuat pertengkaran, mengeluh dokternya tidak bagus, obatnya tidak dapat menyembuhkan penyakit yang dinyatakan bisa disembuhkannya, padahal ia bahkan tidak pernah membuka tutup botol untuk mengambil obatnya.

 

60.    Menggosok Kayu untuk Membuat Api
Menjalankan latihan ibarat orang yang menggosok kayu untuk membuat api. Dia mendengar orang berkata, “ambil dua batang bambu dan gosokkan mereka bersama-sama, dan kamu akan memperoleh api.” Jadi dia mengambil dua batang bambu dan menggosokkannya bersama-sama. Tetapi hatinya tidak sabar. Setelah menggosoknya sebentar ia sudah ingin api tersebut muncul. Hatinya terus memaksa agar apinya muncul segera, tetapi apinya tidak juga datang. Dia segera menjadi malas, kemudian dia berhenti untuk istirahat. Kemudian dia mencoba menggosok bamboo tersebut lagi sebentar, dan lalu berhenti untuk istirahat. Kehangatan apapun yang muncul segera menghilang karena panas tersebut tidak terhubung. Jika dia terus bertindak seperti ini, berhenti saat dia merasa lelah –meskipun menjadi lelah bukanlah hal yang sangat buruk: tetapi kemalasannya bergabung di dalamnya, sehingga seluruh usahanya menjadi sia-sia. Dia memutuskan bahwa tidak akan ada api, dan dia tidak menginginkan api lagi, jadi dia menyerah. Dia berhenti. Dia tidak akan menggosok batang-batang tersebut lagi. Kemudian dia mengumumkan, “Tidak ada api. Kamu tidak bisa memperoleh api dengan cara ini. Tidak ada api. Saya sudah mencobanya.”

 

61.    Kunci Meditasi
Latihan adalah seperti sebuah kunci, kunci meditasi. Tidak akan menjadi masalah seperti apapun bentuk gembok tersebut, selama kita memiliki kuncinya di tangan kita. Kita tidak peduli seberapa kuat gembok tersebut, asalkan kita memutar kuncinya untuk membuka gembok kita mencapai tujuan kita. Jika gembok tersebut tidak mempunyai sebuah kunci, kita tidak dapat mencapai tujuan kita. Apapun yang terkunci di dalam kotak tersebut, tidak dapat kita keluarkan.

 

62.    Panas & Dingin
…Sama seperti dimanapun api berada ia pasti membakar, dimana ada panas, di sana ia muncul. Dimanapun ketika panas, kamu membuatnya menjadi dingin di sana. Dalam cara yang sama, nibbana berada di tempat yang sama dengan samsara, lingkaran kelahiran kembali; samsara berada di tempat sama dengan nibbana. Sama seperti panas dan dingin berada di tempat yang sama: Dingin berada di tempat dimana ada panas. Ketika panas, maka dingin menghilang. Ketika dingin menghilang, maka akan panas…

 

63.    Melawan Arus
Berlatih itu sama dengan melawan arus: melawan arus yang mengalir di dalam hati kita, melawan arus kekotoran batin. Segala sesuatu yang bergerak melawan arus akan sangat berat. Jika kamu mengayuh sebuah perahu melawan arus, pasti akan sangat berat. Membangun kebajikan dan kesucian akan sedikit berat karena kita manusia memiliki kekotoran-kekotoran batin. Kita tidak menginginkannya. Kita tidak ingin diganggu. Kita tidak ingin membangun daya tahan. Yang sangat kita inginkan adalah membiarkan segala hal berjalan sesuai dengan suasana hati kita. Seperti air: ia mengalir sesuai dengan jalannya sendiri. Jika kita membiarkan semua hal mengalir seperti air, akan sangatlah mudah tetapi ini bukanlah berlatih. Dengan berlatih kamu harus melawan. Kamu harus melawan kekotoran batin, melawan hatimu sendiri, melawan dengan kuat hatimu sendiri, meningkatkan kekuatan daya tahanmu. Pada saat itulah maka latihanmu akan bergerak melawan arus.

 

64.    Kucing
Kekotoran batin sama seperti kucing. Jika kamu memberi makan seekor kucing kapanpun ia ingin, maka ia akan terus datang dan datang lebih sering. Tetapi akan datang suatu hari ketika kucing itu mencakarmu jika kamu tidak memberinya makan. Jadi kamu tidak harus memberinya makan. Kucing itu akan terus mengeong dan mengeong, tetapi jika kamu tidak memberinya makan selama satu atau dua hari, maka ia akan berhenti datang kembali. Sama seperti kekotoran-kekotoran batin. Jika kamu tidak memberinya makan, maka mereka tidak akan mengganggumu. Pikiranmu kemudian akan dapat menjadi tenang dan terbebaskan.

 

65.    Kerja Dulu, Upah Kemudian
Beberapa orang datang dan berlatih hanya untuk mendapatkan kebahagiaan. Tetapi datang dari manakah kebahagiaan itu? Apa yang menjadi penyebabnya? Semua bentuk kebahagian datang dari kesedihan. Hanya dari kesedihan maka akan ada kesenangan. Apapun pekerjaan kita: Kita harus bekerja terlebih dahulu sebelum kita memperoleh gaji untuk membeli barang, bukan? Kita harus bekerja dulu di sawah sebelum kita memperoleh beras untuk dimakan. Segala sesuatu harus melalui kesedihan dan penderitaan terlebih dahulu.

 

66.    Memakan Tebu
Pernahkah kamu memakan tebu? Ketika kamu memakan dari ujung atas hingga ke bagian bawahnya, seperti apa ia terasa? Semakin dekat kamu dengan bagian bawahnya, maka akan semakin manis ia –bahkan hingga sampai hanya tersisa satu inci saja, kamu tetap tidak akan membuang tebu itu. Akan terasa suatu pemborosan jika kamu membuangnya. Semut-semut akan ingin memakannya tetapi kamu tidak akan membiarkan mereka memilikinya. Jadi berlatihlah seperti demikian. Berlatih Dhamma seperti layaknya seseorang yang sedang memakan tebu.

 

67.    Pagar
Sebagai latihan, mulailah dengan membangun kekuatan daya tahanmu dan kemudian renungkan. Renungkan hal-hal yang kamu lakukan, kedatangan dan kepergianmu. Renungkan apa yang kamu tuju. Apapun yang muncul, Sang Buddha telah memberitahukan kita segalanya. Darimanapun segala sesuatu itu datang, Sang Buddha telah memberitahukan kita segalanya. Jika kita mengetahui segala sesuatu, apapun yang datang dalam jalan ini, kita melihatnya. Apapun yang datang dari jalan itu, kita melihatnya. Benar kita ketahui. Salah kita ketahui. Bahagia kita ketahui. Senang kita ketahui. Kita tahu segala sesuatu di sekeliling kita. Tetapi pikiran kita, ketika mereka merenung, mereka belum mengetahui segala sesuatu. Kita hanya mengetahui satu sisi ini tetapi meninggalkan sisi lainnya terbuka lebar. Sama seperti meletakkan sebuah pagar di sekitar sebuah ladang atau sebuah rumah tetapi pagar tersebut tidak mengelilinginya habis. Jika kita hanya meletakkan pagar pada salah satu sisi, para pencuri akan masuk dari sisi lainnya, dari sisi yang belum dipagari. Mengapa demikian? Kita belum menutup gerbangnya. Pagar kita belum cukup baik. Jadi adalah hal yang wajar bila para pencuri bisa masuk dari sisi yang terbuka itu. Jadi kita merenung kembali, menambahkan lebih banyak pagar, menutup segala sesuatu, sepenuhnya. Membangun sebuah pagar berarti membangun perhatian penuh dan selalu tetap sadar. Jika kita melakukan hal ini, maka Dhamma tidak akan kemana-mana. Ia akan berada tepat disini. Baik dan buruk, Dhamma yang harus kita lihat dan harus kita ketahui, akan muncul tepat disini.

 

68.    Dalam Bentuk Sebuah Lingkaran
Dalam berlatih, jangan berpikir bahwa kamu harus duduk untuk bisa bermeditasi, bahwa kamu harus berjalan kesana dan kemari untuk bisa bermeditasi. Jangan berpikir seperti itu. Meditasi adalah sebuah latihan yang sesungguhnya sangat sederhana. Apakah ketika kamu sedang memberikan sebuah khotbah Dhamma, duduk di sini mendengarkan Dhamma, atau pergi dari sini, kamu tetap dapat berlatih di dalam hatimu. Tetap sadar terhadap apa yang patut dan apa yang tidak patut. Jangan memutuskan bahwa tidak apa-apa untuk mematuhi latihan-latihan bertapa selama retret musim hujan dan kemudian meninggalkan latihan tersebut setelah retret berakhir. Hal ini tidak baik. Latihan tidak berjalan dalam cara seperti itu. Hal ini dapat disamakan seperti membersihkan sebuah ladang. Kita terus memotong rumput, memotong rumput, dan kemudian berhenti ketika kita capek. Kita meletakkan cangkul kita dan baru datang satu atau dua bulan kemudian. Alang-alangnya sekarang telah lebih tinggi daripada tunggul pohon. Jika kita mencoba membersihkan daerah yang telah kita bersihkan sebelumnya, maka akan terasa berat bagi kita. Suatu waktu Ajaan Mun pernah berkata bahwa kita harus membuat latihan kita berbentuk sebuah lingkaran. Sebuah lingkaran tidak pernah mempunyai akhir. Ia akan terus berjalan terus-menerus. Tetaplah berlatih secara terus-menerus tanpa berhenti. Saya mendengarkannya dan saya berpikir, “Ketika saya telah selesai mendengarkan ucapan ini, apa yang harus saya lakukan?” Jawabannya adalah dengan membuat kesadaran kita akaliko: tanpa batas waktu. Pastikan bahwa pikiran mengetahui dan melihat apa yang patut dan apa yang tidak patut, sepanjang waktu.

 

69.    Kebakaran & Kebanjiran
Sang Buddha mengajarkan demikianlah pikiran dan tubuh kita adanya. Demikianlah mereka akan menjadi kemudian. Mereka tidak akan berubah dalam cara yang lain. Dengan kata lain, pertama mereka lahir, kemudian mereka tumbuh tua, kemudian mereka sakit, dan kemudian mereka meninggal. Ini adalah kebenaran yang sesungguhnya, bahwa kamu akan mengalaminya di saat ini juga. Ini adalah sebuah kebenaran mulia. Jadi pandang pikiran dan tubuh kita dengan kebijaksanaan untuk melihatnya, itu saja. Bahkan jika api membakar rumahmu, atau jika air membanjiri rumahmu, kamu harus membiarkannya terjadi hanya sampai pada rumahmu saja. Jika api tersebut membakar, jangan biarkan ia membakar hatimu. Jika air tersebut membanjiri, jangan biarkan ia membanjiri hatimu. Biarkan air hanya membanjiri rumahmu saja. Biarkan api hanya membakar rumahmu saja, yang mana adalah sesuatu yang berada di luar tubuhmu. Sedangkan untuk hatimu, biarkan ia melepas, karena sekarang adalah waktu yang tepat. Sekarang adalah waktunya untuk melepas.

 

70.    Meletakkan Gelas Kembali
Berlatih adalah dengan cara melepas. Jangan melekat. Atau jika kamu melekat, jangan melekat dengan kuat. Kamu paham maksudnya tidak melekat? Gelas ini: Kita memegangnya untuk diambil dan melihat gelas tersebut. Ketika kita sudah tahu segala hal tentang gelas ini, kita meletakkannya kembali. Itulah yang dinamakan tidak melekat –dengan kata lain, memegang tetapi tidak memegang dengan kuat. Kamu memegang untuk melihat dan untuk memahaminya, dan kemudian kamu meletakkannya kembali. Kamu akan damai.

 

71.    Pisang Beracun
Saat berusia sembilan tahun, saya sudah tinggal di vihara, ditahbiskan sebagai seorang samanera. Saya terus mencoba berlatih, tetapi saya tidak memahami banyak hal pada saat itu. Saya memahami hanya pada saat saya akan ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu. Oho! Saya melihat ketakutan dalam segala hal. Saya melihat kesenangan akan nafsu duniawi yang dialami oleh orang lain. Namun saya melihatnya bukan sebagai sesuatu yang menyenangkan seperti yang dirasakan orang-orang tersebut, saya melihatnya lebih sebagai penderitaan. Kesenangan akan nafsu duniawi sama seperti sebuah puding pisang. Ketika kita memakannya, akan terasa enak dan manis. Kita mengetahui manis dari rasanya. Tetapi jika kita mengetahui bahwa seseorang menaruh racun ke dalam pisang tersebut, kita tidak akan peduli seberapa manis pisang tersebut jika tahu bahwa kita akan meninggal bila memakannya bukan? Itulah yang selalu menjadi pandacara saya. Ketika saya hendak makan, saya selalu melihat racun yang terdapat di dalamnya. Itulah mengapa saya terus menarik jauh dan pergi jauh, hingga ke titik sekarang saya tetap menjadi seorang bhikkhu selama bertahun-tahun ini. Sekali kamu melihat, maka tidak akan mencoba untuk memakannya.

 

72.    Belajar vs Pergi Berperang
Ada beberapa bhikkhu yang suka belajar dan melakukan penelitian terhadap Tipitaka dan telah belajar banyak mengenai teks-teks tersebut. Saya memberitahu mereka cobalah untuk berlatih meditasi. Inilah yang terjadi dengan buku: Ketika kamu belajar, kamu membaca sesuai teori dari teks-teks tersebut, tetapi ketika kamu pergi berperang, kamu harus keluar dari teori. Jika kamu berperang hanya berpatokan teori, kamu tidak akan menang dari musuhmu. Ketika pertempuran sudah menjadi sengit, maka kamu harus keluar dari teori teks-teks tersebut.

 

Bersambung ke bagian 5 >>> 108 Perumpamaan Dhamma Bagian 5

 

Sumber : “In Simple Terms: 108 Perumpamaan Dhamma”, oleh Ajahn Chah, diterjemahkan dari bahasa Thailand oleh Bhikkhu Thanissaro. Access to Insight, 4 April 2011, http://www.accesstoinsight.org/lib/thai/chah/insimpleterms.html.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*