108 Perumpamaan Dhamma Bagian 3

37.    Kulit Buah
Saya akan memberikan Anda sebuah perbandingan sederhana. Anggaplah Anda membeli setandan pisang atau sebutir kelapa di pasar dan kamu berjalan sambil membawanya. Seseorang kemudian bertanya,
“Mengapa kamu membeli pisang tersebut?”  “Saya membelinya untuk dimakan.”
“Tetapi apakah kamu akan memakan kulit pisangnya juga?”  “Tidak.”
 “Saya tidak percaya padamu. Jika kamu tidak akan memakan kulitnya, jadi mengapa kamu membawanya juga?”

 Atau anggap jika kamu membawa sebutir kelapa:
“Mengapa kamu membawa kelapa?”  “Saya membawanya pulang untuk membuat kari.”
“Dan kamu akan membuat kari dengan kulit kelapa nya juga?”  “Tidak.”
 “Jika demikian mengapa kamu membawanya?”
Jadi. Bagaimana kamu akan menjawab pertanyaan ini?

Melalui keinginan. Jika tidak ada keinginan, maka kamu tidak akan pernah mencapai kepandaian, mencapai kebijaksanaan. Sama halnya dengan cara yang kita lakukan dalam meditasi. Meskipun kita bermeditasi dengan cara melepas, hal ini sama halnya dengan pisang atau kelapa tersebut: Mengapa kamu membawa kulitnya? Karena belum waktunya untuk dibuang. Kulitnya masih berguna untuk melindungi daging buah di dalamnya. Waktunya belum tiba untuk membuang kulit tersebut, jadi kamu masih membawanya untuk sementara waktu. Sama halnya dengan latihan kita: Praduga dan pelepasan harus bercampur bersama, sama seperti kelapa yang memiliki kulit yang bersatu dengan daging dan isinya, jadi kamu membawa mereka semua. Jika orang lain menuduh kita memakan kulit kelapa, terus mengapa? Kita tahu apa yang sedang kita lakukan.

 

38.    Berhitung
Dhamma seperti berhitung. Ada perkalian, pembagian, penjumlahan, dan pengurangan. Jika kita dapat berpikir dengan cara ini, kita akan pandai. Kita tahu waktu dan tempat yang tepat untuk segala hal. Kita mengurang ketika kita harus mengurang, mengali ketika harus mengali, membagi ketika kita harus membagi, menjumlahkan ketika kita harus menjumlahkan. Jika kita mengali setiap waktu, jantung kita akan berhenti karena bebannya terlalu berat. Dengan kata lain, kita tidak merasa cukup. Tidak merasa cukup berarti tidak merasa bahwa kita semakin bertambah tua. Setiap orang yang merasa dirinya semakin bertambah tua adalah seseorang yang merasa cukup. Ketika merasa cukup, maka kata-kata, “Oke, itu sudah banyak,” dapat membuat mereka berhenti. Jika tidak merasa cukup, kata “oke” tidak dapat membuat mereka berhenti karena mereka akan terus ingin mengambil. Kita tidak pernah membuang segalanya, melepas segalanya, meletakkan segalanya. Kita selalu mengambil. Jika kita bisa “oke,” kita akan mencapai kedamaian. Yaitu merasa cukup.

 

39.    Gelas Yang Pecah
Kamu mungkin bisa berkata, “Jangan pecahkan gelas saya!” Tetapi kamu tidak bisa mencegah benda yang bisa pecah menjadi pecah. Jika ia tidak pecah sekarang, ia akan pecah suatu waktu. Jika kamu tidak membuatnya pecah, orang lain akan. Jika orang lain tidak memecahkannya, salah satu dari ayam-ayam itu akan! Sang Buddha mengajarkan untuk menerima hal ini. Dia memahami segala sesuatu seperti melihat bahwa gelas ini sudah pecah. Gelas yang belum pecah ini, Beliau meminta kita untuk mengetahui bahwa gelas itu sudah pecah. Kapanpun kamu mengambil gelas tersebut, menuangkan air ke dalamnya, minum dari gelas tersebut, dan meletakkannya, Beliau memberitahu kita untuk melihat bahwa gelas tersebut sudah pecah. Dapatkah Anda memahaminya? Pemahaman Sang Buddha adalah seperti berikut. Dia melihat gelas pecah di dalam gelas yang tidak pecah. Ketika saatnya telah tiba, gelas ini akan pecah. Kembangkan cara berpikir ini. Pakailah gelas tersebut; jagalah. Namun jika suatu hari gelas tersebut tergelincir dari tanganmu: “Brak, pecah!” Tidak masalah. Mengapa tidak masalah? Karena kamu melihatnya sebagai gelas pecah sebelum ia pecah. Paham? Tetapi pada umumnya orang berkata, “Saya sudah menjaga dengan baik gelas ini. Tidak akan membiarkannya pecah.” Kemudian seekor anjing memecahkannya, dan kamu membenci anjing tersebut. Jika anakmu memecahkannya, kamu membencinya juga. Kamu membenci siapapun yang memecahkannya karena kamu telah membendung dirimu sehingga air tidak bisa mengalir. Kamu telah membuat sebuah bendungan dengan tanpa sebuah saluran pembuangan. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh bendungan tersebut adalah meledak, bukan? Ketika kamu membuat sebuah bendungan, kamu harus membuat sebuah saluran pembuangan juga. Ketika air naik hingga ke tingkat tertentu, air tersebut dapat mengalir keluar dengan aman ke pinggiran. Ketika air tersebut penuh hingga ke tepi, ia akan mengalir keluar melalui saluran pembuangan. Kamu harus memiliki sebuah saluran pembuangan seperti ini. Memahami ketidak-kekalan adalah saluran pembuangan Sang Buddha. Ketika kamu memandang segala sesuatu dengan cara ini, kamu akan mencapai kedamaian. Itulah praktek Dhamma.

 

40.    Garam
Jika kamu melakukan kebajikan dengan tujuan untuk mengakhiri penderitaan, kamu harus melakukan kebajikan dan mengembangkan kualitas-kualitas cara berpikir yang baik di dalam pikiran pada saat yang bersamaan. Jika kamu tidak mengembangkan kualitas cara berpikir, tidak ada kebijaksanaan yang akan timbul. Kebajikan saja sama seperti daging mentah atau ikan mentah. Jika kamu membiarkannya dengan kondisi begitu saja, maka daging atau ikan tersebut akan membusuk. Tetapi jika kamu menggaraminya, maka daging dan ikan tersebut akan bisa bertahan untuk waktu yang lama. Atau sama juga halnya jika kamu memasukkannya ke dalam lemari es.

 

41.    Sebuah Baskom Yang Terbalik
Jika kita meninggalkan perbuatan jahat, maka ketika kita melakukan kebaikan meskipun hanya sedikit di suatu waktu, masih ada kesempatan bahwa kualitas diri kita berkembang penuh. Seperti sebuah baskom yang diletakkan menghadap ke atas di alam terbuka: Meskipun hujan hanya turun setetes pada satu waktu, tetap ada kesempatan baskom tersebut akan penuh. Tetapi jika kita melakukan kebajikan tanpa meninggalkan perbuatan jahat, ini sama seperti meletakkan baskom secara terbalik di tempat terbuka. Ketika hujan turun, air hujan hanya akan mendarat di permukaan baskom, tetapi di bagian luar, bukan di bagian dalam. Tidak mungkin air hujan akan memenuhi baskom tersebut.

 

42.    Baskom Yang Bocor
Jika kamu melakukan kejahatan dan kemudian mencoba menyumbat kebocoran dengan melakukan kebajikan, hal ini sama seperti menyumbat sebuah lubang di dasar pot dan menuangkan air ke dalamnya. Atau seperti menyumbat sebuah lubang di dasar sebuah baskom dan menuangkan air ke dalamnya. Bagian bawah pot, bagian bawah baskom, tidak berada di kondisi yang baik. Tindakan kita untuk meninggalkan perbuatan jahat masih belum dalam kondisi yang baik. Jika kamu menuangkan air ke dalamnya, ia tetap akan merembes keluar dan baskom akan kering. Bahkan jika kamu menuangkan air sepanjang hari, air tersebut tetap akan merembes keluar sedikit demi sedikit, dan bahkan tidak akan ada air yang tersisa. Kamu tidak akan memperoleh keuntungan yang kamu inginkan darinya.

 

43.    Air di dalam Kendi
Ketika tidak ada bentuk-bentuk kejahatan dalam hati kita, semua masalah akan menghilang. Perasaan tenang muncul karena kita menjaga diri kita. Pikiran dipenuhi dengan hal-hal yang baik. Ketika pikiran itu berkembang tenang, ia akan terpusat. Ketika pikiran tenang, ia akan berkembang menjadi kebijaksanaan. Kita mengetahui bagaimana caranya membuat pikiran bersih dan terang. Apapun bentuk-bentuk kejahatan yang datang, kita melepaskannya. Apapun yang salah, kita mengesampingkannya. Kita merenungkan dan mengesampingkan segala sesuatu, melepaskan mereka. Hal ini sama seperti air yang berada di dalam sebuah kendi. Kita mengambil secentong penuh dan membuangnya. Mengambil lagi centongan penuh kedua dan membuangnya –terus menyentong dan membuangnya. Air di dalam kendi pada akhirnya akan mengering. Pikiran yang sedang dilatih juga seperti ini. Tetapi jika kita memahami cara tersebut, akan seperti memasukkan air ke dalam kendi dan kemudian mengeluarkannya, memasukkan air dan kemudian mengeluarkannya. Kebajikan, kejahatan, kebajikan, kejahatan; salah, benar, salah, benar; baik, buruk, baik, buruk: suatu waktu kita damai, dan kemudian menderita.

 

44.    Sebuah Cetakan
Anda sekalian, para guru sekolah adalah sebuah cetakan untuk membentuk orang, jadi Anda harus berubah sesuai dengan petunjuk Dhamma dan mempraktekkan Dhamma. Berperilaku dalam sebuah cara yang bias menjadi sebuah contoh bagi orang lain. Anda seperti sebuah cetakan untuk membuat aksesoris jimat-jimat Buddha. Pernahkah kamu melihatnya? Hanya sebuah cetakan: mereka memahatnya dengan baik, memahat wajah, memahat alis mata, dagu sehingga cetakan tersebut menjadi baik dan tidak kekurangan apapun, sehingga aksesoris jimat Buddha yang dihasilkan oleh cetakan tersebut akan terlihat cantik. Dan ketika aksesoris tersebut jadi mereka benar-benar cantik, hal ini dikarenakan sebuah cetakan yang bagus itu. Sama seperti para guru sekolah, yang merupakan cetakan bagi murid-murid mereka dan masyarakat pada umumnya. Anda harus membuat diri Anda cantik dalam hal kualitas personal seorang guru yang baik. Anda harus selalu berperilaku sesuai dengan kode etik Anda dan memiliki keteladanan seorang pemimpin dan pembimbing. Meninggalkan semua bentuk perilaku memabukkan dan tidak baik. Mencoba untuk mencapai standar tinggi akan moralitas. Anda harus menjadi sebuah contoh yang baik bagi anak-anak.

 

45.    Tanaman Merambat
Anak-anak seperti tanaman merambat. Ketika sebuah tanaman merambat tumbuh, ia akan mencari sebuah pohon untuk merambat naik. Jika sebuah pohon berjarak 15 sentimeter darinya dan pohon lain berjarak 10 meter, pohon mana yang menurut kamu akan dirambati oleh tanaman tersebut? Tanaman itu akan merambat naik ke pohon yang terdekat. Tidak mungkin ia akan merambat pada pohon yang berjarak 10 meter tersebut karena terlalu jauh. Dalam hal yang sama, para guru sekolah adalah orang terdekat bagi murid-murid mereka. Mereka adalah orang yang paling suka dicontoh oleh anak-anak. Jadi adalah hal yang sangat penting bahwa para guru sekolah sekalian mempunyai kebiasaan yang baik dan standarstandar perilaku –dalam hal apa yang harus Anda lakukan dan hal yang harus ditinggalkan – untuk dilihat oleh anak-anak. Jangan mengajarkan mereka dengan hanya menggunakan mulut anda. Cara Anda berdiri, cara Anda berjalan, cara Anda duduk –setiap gerakan Anda, setiap kata Anda – harus Anda buat menjadi sebuah pembelajaran bagi anak-anak. Mereka akan mengikuti contoh Anda karena anak-anak cepat dalam mempelajari sesuatu. Mereka lebih cepat daripada orang dewasa.

 

46.    Secangkir Air Kotor
Banyak orang yang datang ke sini memiliki posisi yang berpengaruh di masyarakat dan memiliki pandanganpandangan tertentu mengenai berbagai hal: mengenai diri mereka sendiri, mengenai praktek meditasi, mengenai ajaran-ajaran Sang Buddha. Beberapa dari mereka adalah pedagang kaya, beberapa memiliki pendidikan yang tinggi, beberapa adalah guru atau pegawai pemerintah. Pikiran mereka penuh dengan pandangan-pandangan mengenai berbagai hal. Mereka terlalu pintar untuk mendengarkan orang lain. Seperti air dalam sebuah cangkir. Jika cangkir tersebut penuh dengan air kotor, maka ia tidak dapat digunakan untuk apapun. Hanya ketika kamu membuang air kotornya maka barulah cangkir tersebut dapat dipakai kembali. Anda harus mengosongkan pikiran Anda akan pandangan-pandangan sebelum Anda dapat belajar. Praktek kita, beberapa langkah melebihi baik kepintaran maupun kebodohan. Jika Anda berpikir, “Saya pintar. Saya kaya. Saya penting. Saya memahami ajaran Sang Buddha dengan jelas,” Anda tidak akan pernah memahami kebenaran akan anatta, atau tiada-aku. Anda tidak akan mempunyai apapun kecuali keakuan – aku dan milikku. Padahal ajaran Sang Buddha adalah meninggalkan keakuan. Kekosongan. Pembebasan dari penderitaan. Pembubaran total. Itulah nibbana.

 

47.    Memetik Mangga
Jika sebuah mangga 5 meter tingginya dari tanah dan kita menginginkannya, kita tidak bisa menggunakan sebuah tongkat 10 meter untuk memetiknya, karena tongkat tersebut terlalu panjang. Kita juga tidak bias menggunakan sebuah tongkat 2 meter, karena tongkat tersebut terlalu pendek. Jangan berpikir bahwa seseorang dengan gelar PhD. akan mudah untuk mempraktekkan Dhamma karena ia telah tahu banyak hal. Jangan berpikir dengan cara begitu. Terkadang orang dengan gelar PhD. Tersebut terlalu panjang.

 

48.    Tape Recorder Dalam Dirimu
Ajaran yang telah saya berikan kepada kamu hari ini: Jika mendengarkan pada Dhamma ini telah membuat pikiran mu kosong dan tenang, ini sudah cukup baik. Kamu tidak harus mengingat apapun. Beberapa dari kamu mungkin tidak percaya akan hal ini. Jika kamu membuat pikiranmu tenang dan kemudian mengizinkan apa pun yang kamu dengar melewatinya, melewatinya, tetapi kamu tetap merenung, kamu seperti sebuah tape recorder. Kapanpun pikiranmu terbuka seperti ini, nyala seperti ini, semua ajaran Dhamma tersebut ada di sana. Jangan takut bahwa tidak akan ada sesuatu di sana. Setiap waktu kamu membuka recorder mu, menyalakannya, semua nya ada disana. Recorder eksternal bisa rusak. Setelah kamu membelinya, recorder tersebut bisa rusak. Tetapi recorder di dalam dirimu, ketika ajaran Dhamma telah masuk ke hatimu: Oh, itu sungguh baik. Ajaran itu ada disana sepanjang waktu dan ia tidak menghabiskan bateraimu.

 

49.    Balon
Pada masa Sang Buddha, terdapat beberapa orang yang langsung menembus tingkat tertinggi Dhamma ketika mereka sedang duduk dan mendengarkan Dhamma. Mereka sangat cepat. Seperti sebuah balon: Udara dalam balon telah menekan dirinya sendiri ke arah luar. Jadi ketika kamu menusuknya sedikit saja dengan sebuah jarum, maka balon tersebut akan meledak seketika. Sama halnya disini. Ketika kamu mendengarkan Dhamma sesuai dengan kecenderungankecenderunganmu, maka Dhamma akan membalik pandanganmu, dari ini menjadi itu, dan kamu dapat menembus Dhamma sesungguhnya.

 

50.    Tidak Sebanding dengan Seekor Lembu
Seekor lembu yang telah menarik sebuah gerobak yang penuh muata dalam perjalanan yang panjang –semakin dekat matahari dengan kaki langit dan malam segera datang, semakin cepat ia berjalan, karena ia ingin mencapai tujuannya lebih cepat. Ia rindu akan rumahnya. Kita manusia, semakin tua kita, semakin sakit kita, semakin dekat kita dengan kematian: Itulah waktunya ketika kamu harus mempraktekkan Dhamma. Kamu tidak bisa membuat usia tua dan penyakit sebagai alasan untuk tidak mempraktekkan Dhamma, atau kamu hanyalah akan lebih buruk dari seekor lembu.

 

51.    Hati adalah Guru itu Sendiri
Masing-masing dari kita disini adalah sama. Kita tidak berbeda satu dengan yang lainnya. Kita tidak mempunyai guru saat ini –jika kamu ingin menembus Dhamma, hatimu harus mengajarkan dirinya sendiri. Jika hatimu tidak mengajarkan dirinya sendiri, maka tidak peduli berapa banyak orang telah mengajarkanmu,hatimu tidak akan mendengarkan, hatimu tidak akan memahami. Hati itu sendiri harus menjadi guru Tidaklah mudah bagi kita untuk melihat diri sendiri. Sangatlah susah. Jadi pikirkan tentang ini sedikit. Kita semua telah melakukan kejahatan. Sekarang kita sudah tua, kita harus berhenti. Buatlah kejahatan itu menjadi lebih ringan. Kurangi. Hingga menjadi tidak ada sama sekali. Pada saat inilah. Balik pikiranmu ke arah kebajikan.

 

52.    Air & Minyak
Air berbeda dengan minyak, sama seperti halnya orang pintar berbeda dengan orang bodoh. Sang Buddha hidup dengan pandangan, suara, bebauan, rasa, sensasi indra peraba, dan buah-buah pikiran, tetapi beliau adalah seorang arahat, jadi beliau melihat hal-hal ini “sebagaimana adanya,” itu saja. Beliau terus melepas, beliau melihat kemauan hati sebagaimana adanya – kemauan hati, itu saja; pikiran sebagaimana adanya – pikiran, itu saja. Beliau tidak mencampurkan mereka bersama. Jika kamu bisa berpikir dengan cara ini, jika kamu bisa merasa dengan cara ini, kamu dapat memisahkan hal-hal tersebut. Pikiran dan perasaan di salah sisi, kemauan hati di sisi lainnya, sama seperti air dan minyak dalam botol yang sama tetap terpisah.

 

53.    Bhikkhu “tampak luar” dan Bhikkhu yang Sesungguhnya
Ketika kamu sudah ditahbiskan sesuai ajaran Buddha, kamu kelihatannya telah menjadi seorang bhikkhu. Tetapi kamu belumlah menjadi seorang bhikkhu yang sesungguhnya. Kamu adalah bhikkhu sesuai dengan tampilan fisikmu: kepala yang dicukur, jubah kuning. Kamu adalah seorang bhikkhu pada tahapan “tampak luar”. Sama seperti ketika mereka memahat kayu, memahat batu, atau mencetak perunggu menjadi sebuah patung Buddha. Ini hanyalah Buddha secara “tampak luar”. Bukanlah Buddha yang sesungguhnya. Bagi mereka yang masih menjadi bhikkhu “tampak luar” –dengan kata lain, mereka masih memiliki keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin di dalam hati mereka: ketiga hal ini akan memenjarakannya ke dalam keadaan menjadi dan kelahiran kembali. Penyebab kita tidak dapat mencapai kedamaian dikarenakan oleh keserakahan, kemarahan, dan kegelapan batin. Jika kamu mengeluarkan keserakahan, kemarahan, dan kegelapan batin dari hatimu, maka kamu akan mencapai kesucian. Kamu akan mencapai tingkat kualitas bhikkhu yang sesungguhnya –yang berarti menjadi seorang bhikkhu di dalam hatimu.

 

54.    Membuat Meja & Kursi
Adalah baik untuk membuat pikiran bersih dan damai, tetapi hal ini sulit. Kamu harus memulainya dari luar –ucapan dan tindakan tubuhmu- baru kemudian menuju ke dalam, yaitu pikiran. Jalan yang menuju pada kesucian, untuk menjadi sebuah perenungan, adalah sebuah jalan yang dapat mencuci bersih keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin. Kamu harus berlatih menahan dan pengendalian diri, itulah mengapa membuatnya menjadi susah untuk dilakukan –tetapi lalu kenapa kalau hal ini susah? Sama seperti mengambil kayu untuk membuat sebuah meja atau sebuah kursi. Susah memang, tetapi lalu kenapa kalau susah? Kayu tersebut harus melalui proses tersebut. Sebelum ia menjadi sebuah meja atau sebuah kursi, kita harus mulai dari pekerjaan yang kasar dan berat terlebih dahulu. Sama halnya dengan diri kita. Kita harus menjadi terlatih pada saat kita belum terlatih, menjadi sangat baik ketika kita belum sangat baik, menjadi terampil sebelum kita terampil.

 

Bersambung ke bagian 4 >>> 108 Perumpamaan Dhamma Bagian 4

 

Sumber : “In Simple Terms: 108 Perumpamaan Dhamma”, oleh Ajahn Chah, diterjemahkan dari bahasa Thailand oleh Bhikkhu Thanissaro. Access to Insight, 4 April 2011, http://www.accesstoinsight.org/lib/thai/chah/insimpleterms.html.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*