108 Perumpamaan Dhamma Bagian 2

Yang Mulia Ajahn Chah adalah seorang ahli dalam menggunakan perumpamaan yang tepat namun tidak biasa dalam menjelaskan berbagai aspek Dhamma. Terkadang Beliau membuat sesuatu yang abstrak menjadi jelas dengan menggunakan sebuah gambaran yang hidup dan sederhana; terkadang Beliau mengungkapkan dampak suatu peristiwa dalam sebuah cara yang mampu menimbulkan berbagai lapis pengertian, memberikan rangsangan untuk berpikir lebih dalam. Dengan kata lain, beberapa dari perumpamaan Beliau akan memberikan jawaban, sedangkan beberapa perumpamaan lainnya akan mengundang pertanyaan.Setelah beliau meninggal dunia, beberapa koleksi perumpamaan dari ceramah Dhamma Beliau telah dikumpulkan.

 

19.    Daging Yang Tersangkut Di Gigimu
Hawa nafsu adalah sesuatu yang sulit untuk dihindari. Tidak ada bedanya dengan memakan daging dan kemudian sepotong kecil daging tersangkut di gigimu. Wow, itu rasanya sakit! Bahkan sebelum kamu selesai makan, kamu akan mengambil tusuk gigi untuk mengeluarkannya. Ketika daging tersebut sudah terlepas kamu akan merasa lega sebentar dan kamu tidak ingin makan daging lagi. Tetapi ketika datang lebih banyak daging ke hadapanmu, maka sepotong daging lain akan tersangkut lagi di gigimu. Kamu akan mengeluarkannya lagi dan kamu akan merasa lega lagi. Itu semua adalah hawa nafsu: tidak lebih dari sepotong daging yang tersangkut di gigimu. Kamu merasa risau dan gelisah, dan kemudian kamu akan mengeluarkannya dari sistemmu dengan cara apa pun juga. Kamu tidak mengerti tentang apa ini semua. Ini menakjubkan.

 

20.    Kehausan Hingga Meninggal
Seperti seseorang yang sangat kehausan karena menempuh perjalanan yang sangat jauh. Dia meminta air, tetapi orang yang memiliki air berkata kepadanya, “Boleh saja jika kamu ingin minum air ini. Airnya jernih, baunya tercium bagus, rasanya juga enak, tetapi air ini beracun, saya ingin kamu tahu itu. Air ini bisa meracunimu hingga mati atau memberimu rasa sakit seperti mati.” Tetapi laki-laki yang haus tersebut tidak akan mendengar karena dia sangat kehausan. Atau seperti seseorang setelah menjalani pembedahan. Dia diberitahu oleh dokter untuk tidak meminum air, tetapi dia meminta air untuk diminum. Seseorang yang haus akan hawa nafsu adalah seperti ini: haus akan pemandangan, haus akan suara, bebauan, atau rasa, yang kesemuanya beracun. Sang Buddha memberitahukan kepada kita bahwa pandangan, suara, bebauan, sensasi sentuhan, dan buah-buah pikiran adalah beracun. Mereka merupakan perangkap. Tetapi kita tidak mendengarkan Beliau. Seperti laki-laki yang haus akan air yang tidak akan mendengarkan peringatan karena rasa hausnya terlalu besar: Tidak peduli berapa banyak masalah atau rasa sakit akan ia jalani, yang ia minta hanyalah air untuk diminum. Dia tidak peduli, jika setelah meminum air tersebut, dia akan meninggal atau menderita rasa sakit seperti kematian. Secepat ia memperoleh segelas air ditangannya, dia akan terus minum. Seorang manusia yang haus akan hawa nafsu akan meminum pandangan, meminum suara, meminum bebauan, meminum rasa, meminum sensasi sentuhan, dan meminum buah-buah pikiran. Kesemua hal tersebut terlihat nikmat, jadi dia terus meminumnya. Dia tidak dapat berhenti. Dia akan meminum semuanya hingga dia mati terjebak dalam perbuatan tersebut, tepat berada di tengah hawa nafsu.

 

21.    Menusuk Sarang Semut Merah
Hawa nafsu adalah seperti mengambil sebatang tongkat dan menggunakannya untuk menusuk sebuah sarang besar semut merah. Semakin sering kita menusuknya, semakin banyak semut merah yang akan jatuh ke badan kita, ke muka kita, ke mata kita, menyengat telinga kita, dan mata. Tetapi kita tidak melihat kekurangan dari apa yang kita sedang lakukan. Semuanya baik-baik saja sepanjang kita dapat melihat. Pahami bahwa jika kamu tidak dapat melihat kekurangan-kekurangan dari hal-hal ini maka kamu tidak akan pernah bisa membebaskan diri darinya.

 

22.    Seekor Katak Yang Tersangkut
Hewan-hewan tersangkut dalam jebakan dan perangkap mengalami penderitaan. Mereka terikat, terperangkap dengan kuat. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu si pemburu datang dan menangkap mereka. Seperti seekor burung yang terjebak dalam sebuah perangkap: Perangkap tersebut menjerat lehernya, dan sebesar apapun ia berjuang ia tidak dapat bebas. Burung tersebut terus berjuang, memukul ke depan dan ke belakang, tetapi ia tetap terperangkap. Yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu si pemburu. Ketika pemburu datang, itulah dia. Itu adalah Mara. Burungburung takut kepadanya; semua hewan takut kepadanya karena mereka tidak dapat melarikan diri. Perangkap kita adalah pandangan, suara, bebauan, rasa, sensasi sentuhan, dan buah-buah pikiran. Mereka mengikat kita dengan kuat. Ketika kita melekat pada pandangan, suara, bebauan, rasa, sensasi sentuhan, dan buah-buah pikiran, kita seperti seekor ikan yang tersangkut pada sebuah kail. Pada kenyataannya, kita jauh lebih buruk daripada seekor ikan yang tersangkut pada kail. Kita lebih seperti seekor katak yang tersangkut pada sebuah kail –karena ketika seekor katak menelan sebuah kail, maka kail tersebut akan masuk ke dalam ususnya. Sedangkan ketika seekor ikan menelan sebuah kail, maka kail tersebut hanya akan masuk ke dalam mulutnya.

 

23.    Perasaan Bahwa Lenganmu Pendek
Ajaran-ajaran Buddha adalah tepat, mudah dimengerti, dan sederhana, tetapi sulit bagi seseorang yang mulai mempraktekkannya karena pengetahuannya tidak mampu mencapai ajaran-ajaran tersebut. Sama halnya seperti sebuah lubang: Ratusan dan ribuan orang akan mengeluh bahwa lubang tersebut terlalu dalam karena mereka tidak dapat mencapai dasarnya. Hampir tidak mungkin akan ada seseorang yang berkata bahwa masalahnya adalah lengannya yang terlalu pendek. Sang Buddha mengajarkan kita untuk meninggalkan segala bentuk kejahatan. Kita melewati bagian ini dan langsung menuju pada membuat kebajikan tanpa meninggalkan kejahatan. Ini sama halnya dengan mengatakan bahwa lubangnya terlalu dalam. Sangat sedikit orang yang mengatakan bahwa lengannyalah yang terlalu pendek.

 

24.    Guk! Guk! Guk!
Saya pernah melihat seekor anjing yang tidak mampu memakan habis nasi yang telah saya berikan kepadanya, jadi dia berbaring dan tetap menjaga nasinya di sana. Anjing tersebut sangat kenyang sehingga ia tidak bisa makan lagi, tetapi dia tetap berbaring sambil berjaga di sana. Dia akan menunggu dan ngantuk, dan kadangkadang dengan tiba-tiba memandang sekilas kepada makanan yang tersisa tersebut. Jika ada anjing lain yang datang untuk makan, tidak peduli berapa besar ataupun kecil anjing tersebut, dia akan menggeram. Jika ayam-ayam datang untuk makan nasi tersebut, dia akan menggonggong: Guk! Guk! Guk! Perutnya sudah terasa akan pecah, tetapi dia tidak dapat membiarkan seekor hewan pun datang untuk makan. Anjing tersebut kikir dan hanya mementingkan diri sendiri. Manusia juga bisa bersifat seperti itu. Jika mereka tidak mengetahui Dhamma, jika mereka tidak mempunyai kesadaran akan tugas-tugas mereka terhadap orang orang yang di atas maupun di bawah mereka, jika pikiran-pikiran mereka dikuasai oleh kekotorankekotoran akan rasa tamak, marah, dan ketidaktahuan, maka bahkan ketika mereka sangat kaya mereka akan kikir dan hanya mementingkan diri sendiri. Mereka tidak tahu bagaimana cara berbagi. Mereka merasa sulit bahkan untuk memberikan dana kepada anak-anak miskin dan orang-orang tua yang tidak punya apapun untuk dimakan. Saya telah memikirkan tentang hal ini dan ia membuat saya berpikir bagaimana manusiamanusia tersebut begitu mirip dengan hewan pada umumnya. Mereka tidak mempunyai kebajikan sebagai seorang manusia sama sekali. Sang Buddha menamakan mereka manussa-tiracchano: manusia yang seperti binatang. Seperti itulah mereka karena mereka kurang akan niat bajik, rasa kasih, rasa turut berempati, dan ketenang-seimbangan.

 

25.    Anjing yang Berada di Atas Setumpuk Beras Bersekam
Ibarat seekor anjing yang sedang berbaring di atas setumpuk beras bersekam. Perutnya sedang berdeguk – kriuk, kriuk- dan anjing tersebut berpikir, “Kemana saya bisa memperoleh sesuatu untuk dimakan?” Perutnya sangat lapar, jadi dia meloncat turun dari tumpukan beras bersekam tersebut dan pergi mencari beberapa sampah untuk dimakan. Makanan tersebut telah tepat ada di tumpukan tempatnya berbaring, tetapi anjing itu tidak menyadarinya. Dia tidak melihat nasi. Dia tidak dapat memakan beras bersekam. Meskipun kita memiliki pengetahuan, tapi bila tidak mempraktekkannya, kita tidak akan bisa memahaminya. Kita sama bodohnya dengan anjing yang berada di atas tumpukan beras bersekam. Sungguh sangat menyedihkan. Beras yang dapat dimakan ada disana, tetapi tersembunyi oleh sekam –dalam bentuk yang sama, pembebasan itu ada di sini, tetapi tersembunyi oleh praduga-praduga kita.

 

26.    Kudis
Sang Buddha berkata, “ Para Bhikkhu, apakah kamu melihat sang serigala yang berlari di sekitar sini tadi malam? Apakah kalian melihatnya? Berdiri tetap ia menderita. Berlari tetap ia menderita. Duduk tetap ia menderita. Berbaring tetap ia menderita. Masuk ke dalam lubang sebuah pohon, tetap ia merasa menderita. Pergi ke sebuah gua pun tetap ia merasa menderita. Ia menderita karena ia berpikir, ‘Berdiri di sini tidak nyaman. Duduk di sini tidak nyaman. Berbaring di sini tidak nyaman. Semak-semak ini tidak nyaman. Lubang pohon ini tidak nyaman. Gua ini tidak nyaman.’ Jadi ia terus berlari sepanjang waktu. Sesungguhnya, serigala tersebut memiliki kudis. Ketidaknyamanan tersebut tidak berasal dari semak-semak atau lubang pohon atau gua, dari duduk, berdiri, ataupun berbaring. Ketidaknyamanan tersebut berasal dari penyakit kudisnya. Anda, para Bhikkhu sekalian juga sama. Ketidaknyamanan anda datang dari pandanganpandangan yang salah. Anda memegang buah-buah pikiran yang beracun sehingga anda pun menderita karenanya. Anda tidak berusaha sekuat tenaga untuk membatasi indera-indera, sehingga anda pun menyalahkan hal-hal lain. Anda tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam diri anda. Ketika anda menetap di sini di Wat Nong Pah Pong, anda menderita. Anda pergi ke Amerika dan menderita. Anda pergi ke London dan menderita. Anda pergi ke Wat Bung Wai dan menderita. Anda pergi ke setiap cabang vihara dan menderita. Kemanapun anda pergi, anda menderita. Penderitaan ini datang dari pandangan-pandangan salah yang masih berada dalam diri anda. Pandanganpandangan anda adalah salah dan anda memegang buah-buah pikiran yang meracuni hati anda. Kemanapun anda pergi anda menderita. Anda seperti serigala tersebut. Ketika anda telah sembuh dari penyakit kudis anda, dengan demikian, anda akan merasa tenang kemanapun anda pergi: tenang berada di tempat terbuka, tenang ketika berada di dalam hutan belantara. Saya sering memikirkan hal ini dan terus mengajarkannya kepada anda karena poin Dhamma ini sangatlah berguna.

 

27.    Belatung
Ketika kita mengembangkan pandangan benar dalam pikiran, kita akan tenang dimanapun kita berada. Dikarenakan kita masih memiliki pandangan salah, masih melekat pada buah-buah pikiran yang beracun, maka kita akan tidak tenang. Melekat pada pandangan yang salah adalah seperti menjadi seekor belatung. Dimana belatung tersebut tinggal adalah tempat yang sangat kotor; makanannya sangat kotor. Itu adalah makanan yang tidak cocok untuk menjadi makanan tetapi terlihat bahwa makanan tersebut sesuai dengan selera si belatung. Cobalah ambil sebatang tongkat dan sentil belatung tersebut menjauh dari kotoran dimana dia makan, dan lihat apa yang terjadi. Belatung tersebut akan bergerak dan menggeliat, mencoba untuk kembali kepada tumpukan kotoran awalnya ia berada. Hanya ketika sudah sampai maka belatung itu akan merasa puas. Sama halnya juga dengan kamu, para bhikkhu dan samanera. Kamu masih memiliki pandangan-pandangan yang salah. Para guru datang dan menasehati kamu bagaimana caranya untuk memiliki pandangan benar, tetapi hal itu terasa tidak benar bagi dirimu. Kamu terus berlari kembali ke tumpukan kotoranmu. Pandangan benar tidak terasa cocok karena kamu telah terbiasa dengan tumpukan kotoran lamamu. Selama si belatung tidak menyadari keadaan menjijikkan tempat dimana dia tinggal, ia tidak akan bisa keluar. Sama halnya dengan kita. Selama kita tidak melihat kekurangan dari pandangan-pandangan salah tersebut, kita tidak akan bisa lepas dari mereka. Mereka membuat kita menjadi sulit untuk mempraktekkan Dhamma.

 

28.    Sungai
Seperti sungai yang mengalir turun ke daratan yang lebih rendah. Sudah menjadi sifat alami sungai untuk mengalir ke bawah. Sungai Ayutthaya, Sungai Muun –sungai apapun juga: mereka semua mengalir ke bawah bukit. Tidak ada satupun dari sungai tersebut yang mengalir ke atas bukit. Itu adalah cara normal sungai mengalir. Bayangkan apabila ada seorang laki-laki berdiri di tepi sebuah sungai, mengamati sungai tersebut mengalir dengan cepat ke bawah bukit, tetapi ia memiliki pikiran yang tidak benar. Dia ingin sungai tersebut mengalir ke atas bukit. Tentu ia akan menderita. Dia tidak akan menemukan kedamaian. Ketika duduk, berdiri, berjalan, berbaring, dia tidak akan menemukan kedamaian. Mengapa hal ini terjadi? Karena pikirannya tidak benar.

 

29.    Ayam Dan Bebek
Dua orang manusia melihat seekor ayam dan seekor bebek. Orang pertama ingin ayam tersebut berubah menjadi seekor bebek, dan bebek tersebut berubah menjadi seekor ayam, tentu saja hal ini tidak bisa terjadi. Sepanjang hidup mereka, hal ini tidak akan dapat terjadi. Jika orang pertama tidak berhenti memikirkan hal ini, maka ia akan mengalami penderitaan. Orang kedua melihat ayam tersebut sebagai seekor ayam, dan bebek tersebut sebagai seekor bebek. Maka tidak akan ada masalah. Ketika pandanganmu benar, maka tidak akan ada penderitaan. Hal yang sama berlaku di sini. Anicca – segala sesuatu yang berbentuk adalah tidak kekal dan kita ingin membuatnya menjadi kekal. Sepanjang mereka tidak kekal, kita merasa sedih. Seseorang yang melihat secara sederhana bahwa segala sesuatu yang tidak kekal adalah tidak kekal akan dapat memperoleh ketenangan. Tidak akan ada masalah yang muncul. Sejak hari kita dilahirkan kita telah lari menjauh dari kebenaran. Kita tidak ingin hal-hal berlangsung sebagaimana adanya, tetapi kita tidak bisa menghentikan mereka dari kebiasaan mereka. Itu adalah kebiasaan sebagaimananya mereka. Mereka tidak bisa bergerak dengan cara lain. Hal ini seperti mencoba membuat seekor bebek menjadi seekor ayam. Bebek tersebut tidak akan pernah bisa sama seperti ayam. Ia adalah seekor bebek. Atau mencoba membuat seekor ayam sama seperti seekor bebek. Ayam tersebut tidak akan pernah bisa sama seperti bebek. Ia adalah seekor ayam. Siapa saja yang berpikir dia ingin mengubah keadaan-keadaan seperti ini akan menderita. Tetapi jika kamu berpikir, “Oh, itu adalah demikian adanya,” kamu akan memperoleh kekuatan bahwa bagaimanapun kamu mencoba, kamu tidak akan bisa membuat tubuh ini kekal atau abadi.

 

30.    Garam Yang Tidak Asin
Seorang bhikkhu yang menyatakan dirinya adalah sebagai seorang meditator suatu waktu datang ke sini dan memohon untuk tinggal di sini bersama saya. Dia bertanya mengenai cara kita berpraktek, dan saya memberitahu dia, “Jika kamu tinggal dengan saya, kamu tidak dapat menyimpan uang atau benda-benda berharga lainnya. Saya mengikuti Vinaya.” Dia berkata bahwa dia mempraktekkan ketidakmelekatan. Saya berkata, “Saya tidak paham apa maksudmu.”Jadi dia bertanya, “Jika saya menggunakan uang tanpa kemelekatan, bisakah saya tinggal di sini?” Jadi saya berkata, “Tentu. Jika kamu dapat makan garam tanpa merasa bahwa garam tersebut asin, maka kamu bisa tinggal di sini. Jika kamu sematamata menyatakan dirimu tidak melekat padahal kamu tidak merasa suka mematuhi peraturan-peraturan yang menjengkelkan kamu ini, maka akan sulit untuk tinggal di sini. Tetapi jika kamu dapat makan garam tanpa merasa garam tersebut asin, maka saya akan percaya padamu. Dapatkah kamu benar-benar memakan setengah potongan garam tanpa merasa asin? Permasalahan ketidak-melekatan ini bukanlah sesuatu yang hanya bisa kamu katakan atau kamu duga. Jika kamu tetap berkata demikian, kamu tidak dapat tinggal bersama saya.” Dan dia pun pergi.

 

31.    Jalan Yang Sepi
Apapun yang ada di dalam pikiran: Jika kemampuan berpikir kita belum cukup bagus, kita tidak akan bisa melepaskannya. Dengan kata lain, terdapat dua sisi: sisi sebelah sini dan sisi sebelah sana. Orang-orang cenderung untuk berjalan di salah satu sisi ini. Akan sangat sulit menemukan orang yang berjalan di tengah kedua sisi tersebut. Jalan tengah ini adalah sebuah jalan yang sepi. Ketika ada cinta, kita berjalan di sisi cinta. Ketika ada rasa benci, kita berjalan di sisi benci. Jika kita coba berjalan dengan cara melepaskan rasa cinta dan benci, maka kita akan berada di sebuah jalan yang sepi. Kita tidak ingin mengikuti jalan sepi tersebut.

 

32.    Sebuah Duri
Segala sesuatu adalah sesederhana sebagaimananya mereka. Mereka tidak memberikan kita penderitaan. Layaknya sebuah duri: Apakah sebuah duri yang tajam memberikan penderitaan bagi kita? Tidak. Ia hanyalah sebuah duri. Ia tidak akan memberikan penderitaan bagi siapapun. Tetapi jika kita menginjaknya, kita pasti akan merasa menderita. Mengapa kita merasa menderita? Karena kita menginjak duri tersebut. Jadi penderitaan berasal dari diri kita sendiri.

 

33.    Membawa Sebuah Batu
“Melepas” sesungguhnya berarti demikian: Seperti ketika kita membawa sebuah batu yang berat. Selama kita membawanya, kita merasa berat. Tetapi kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan terhadap batu tersebut, jadi kita terus membawanya. Ketika ada seseorang yang memberitahukan kita untuk membuang batu tersebut, kita berpikir, “Eh? Jika aku membuangnya, aku tidak akan mempunyai apa-apa lagi.” Jadi kita terus membawa batu tersebut. Kita tidak berniat untuk membuangnya. Bahkan jika ada seseorang yang memberitahu kita, “Ayo. Buang batu itu. Kamu akan merasa lebih baik dan kamu akan mendapatkan keuntungan-keuntungan,” kita tetap tidak berniat membuang batu tersebut karena kita takut kita tidak akan mempunyai apa-apa lagi. Jadi kita terus membawa batu itu hingga kita merasa sangat lelah dan capek sehingga kita tidak mampu membawanya lagi. Baru pada saat itulah kita membuangnya. Hanya pada saat kita melepaskannya baru kita akan memahami melepas. Kita akan merasa tenang. Dan kita dapat merasakannya di dalam diri kita betapa berat rasanya membawa batu itu. Tetapi ketika kita sedang membawa batu itu, kita tidak memahami semua manfaat yang dapat kita peroleh dari melepaskannya.

 

34.    Serpihan Tajam
Sang Buddha mengajarkan kita untuk mencapai pembebasan melalui kebijaksanaan. Seperti ketika kita mempunyai sebuah serpihan kecil yang tajam atau duri di telapak kaki kita. Jika kita berjalan, kadang kita merasa sakit dan kadang tidak merasakannya. Jika kita berjalan dengan hentakan kaki yang keras, akan terasa sakit. Kita merasa sekitar kaki kita sakit tetapi kita tidak merasakan serpihan tajam tersebut, jadi kita pun membiarkannya. Setelah suatu waktu, kita kembali berjalan dan jari kaki kita tersandung di atas sebuah jalan yang tidak rata, serpihan tajam itu kembali menyakiti kita lagi. Hal ini terus terjadi berulang-ulang. Mengapa? Karena serpihan tajam atau duri tersebut masih ada di kaki kita. Ia belum dikeluarkan. Rasa sakit akan terus datang kembali. Ketika rasa sakit datang, kita merasakan duri tersebut tetapi kita tidak dapat menemukannya, jadi kita biarkan. Sesaat kemudian, terasa sakit lagi, jadi kita merasakannya kembali. Hal ini akan terus terjadi lagi dan lagi. Ketika rasa sakit itu muncul, kita harus memutuskan apa itu. Kita tidak boleh membiarkannya. Ketika kaki kita sakit: “Oh. Ternyata duri sialan itu masih di sana.” Ketika rasa sakit datang, keinginan untu mengeluarkan duri tersebut juga muncul. Jika kita tidak mengeluarkannya, rasa sakit akan kembali datang dan datang. Keinginan kita untuk mengeluarkan duri masih ada sepanjang waktu. Bahkan akan datang suatu hari ketika kita memutuskan, tidak peduli bagaimanapun, serpihan itu harus dikeluarkan karena ia menyakitkan. Keputusan kita untuk mempraktekkan Dhamma juga harus seperti ini. Dimanapun ketika ada gangguan, dimanapun ketika ada ketidaknyamanan, kita harus memeriksa hal tersebut, menyelesaikan hal tersebut –menyelesaikan masalah serpihan di dalam kaki kita dengan cara mencabutnya keluar.

 

35.    Meraba-raba Mencari Ikan
Selama kamu tidak melihat bahaya akan suatu hal, akan tetapi tetap lebih baik untuk melepaskannya tidak melihat imbalan yang akan datang ketika kamu melakukannya, pekerjaan yang kamu lakukan tidak akan mencapai tujuan apapun. Sama halnya ketika kamu hanya bermain-main dengan hewan ini, menggaruk-garuk mereka dengan jari-jarimu. Jika kamu melihat kekurangan-kekurangan mereka dengan jelas, melihat imbalan yang datang dengan melepaskannya dengan jelas – Ah! Seperti ketika kamu menangkap ikan dengan menggunakan sebuah keranjang. Kamu tetap mengawasi keranjang tersebut hingga kamu merasakan ada sesuatu di dalam keranjangmu. Kamu dapat mendengar suara hewan tersebut menabrak salah satu sisi keranjang. Kamu mengira hewan tersebut adalah seekor ikan jadi kamu masukkan tangan ke dalam basket dan meraba-raba sekelilingnya, tetapi apa yang kamu pegang bukanlah seekor ikan. Itu adalah hewan lain yang tinggal di dalam air. Matamu tidak bisa melihat apa yang ada di dalam keranjang tersebut. Sebagian dirimu berpikir mungkin hewan tersebut adalah seekor belut; tetapi bagian dirimu yang lain berpikir mungkin itu seekor ular. Kamu menolak untuk melepaskannya jika itu adalah seekor belut. Tetapi jika seekor ular dan kamu tetap memegangnya, maka ia akan menggigitmu. Dapatkah kamu memahaminya? Kamu ragu-ragu karena tidak jelas hewan apakah itu. Keinginanmu begitu kuat sehingga kamu tetap memegangnya dan berpikir bahwa ia adalah seekor belut. Dan ketika kamu mengeluarkannya dari air dan melihat corak di bagian belakang lehernya, kami tiba-tiba melepaskannya. Tidak ada seorang pun yang memberitahu kamu, “Itu adalah seekor ular! Lepaskan! Lepaskan!” Tidak ada seorang pun yang memberitahu kamu. Pikiranmu sendiri yang memberitahukannya –bahkan lebih jelas daripada jika seseorang yang memberitahu. Mengapa? Karena kamu melihat bahaya: ular dapat menggigit. Siapa yang butuh untuk memberitahukan pikiran ini? Jika kamu melatih pikiran hingga pikiran mengetahuinya dengan cara ini, maka pikiranmu tidak akan melekat padanya.

 

36.    Sebuah Wadah untuk Membuang Air Liur
Anatta: Dalam istilah sederhana anatta berarti “tiada aku”. Tetapi anatta tergantung pada adanya suatu perasaan akan aku; anatta tergantung pada adanya suatu perasaan akan atta. Karena itulah ada anatta. Dan itu adalah sebuah anatta yang benar juga. Ketika tidak ada atta, maka anatta tidak akan muncul. Sebagai contoh: Kamu tidak memiliki wadah air liur ini di rumahmu, jadi hal-hal yang berkaitan dengan wadah tersebut tidak akan mengganggumu. Apakah wadah itu pecah atau retak atau dicuri oleh pencuri, tidak ada satu pun dari kejadian ini yang akan mengganggu hatimu – karena tidak ada penyebab, tidak ada kondisi. Mengapa demikian? Karena tidak ada wadah air liur di rumahmu. Jika ada sebuah wadah air liur di rumahmu, maka akan muncul perasaan akan keberadaanya. Ketika wadah tersebut pecah, hal ini akan mempengaruhimu. Ketika wadah tersebut hilang, ia akan mempengaruhimu – karena wadah air liur tersebut sekarang mempunyai seorang pemilik. Itulah yang kita sebut dengan atta. Itulah kesadaran yang dimilikinya. Sedangkan untuk kesadaran anatta, hal ini berarti tidak ada wadah air liur di rumah mu, sehingga tidak ada kesadaran pikiran yang mengharuskan untuk tetap melihat wadah tersebut dan menjaganya, tidak ada rasa takut bahwa pencuri akan mencurinya. Kesadaran-kesadaran tersebut tidak ada lagi di pikiran. Hal ini disebut dengan fenomena-kesadaran (sabhavadhamma). Ada penyebab-penyebab dan kondisi-kondisi, tetapi mereka sesungguhnya hanyalah penyebab dan kondisi yang ditimbulkannya.

Bersambung ke bagian 3 >>> 108 Perumpamaan Dhamma Bagian 3

 

Sumber : “In Simple Terms: 108 Perumpamaan Dhamma”, oleh Ajahn Chah, diterjemahkan dari bahasa Thailand oleh Bhikkhu Thanissaro. Access to Insight, 4 April 2011, http://www.accesstoinsight.org/lib/thai/chah/insimpleterms.html.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*