chahwood

108 Perumpamaan Dhamma Bagian 1

108 PERUMPAMAAN DHAMMA

AJAHN CHAH

Yang Mulia Ajahn Chah adalah seorang ahli dalam menggunakan perumpamaan yang tepat namun tidak biasa dalam menjelaskan berbagai aspek Dhamma. Terkadang Beliau membuat sesuatu yang abstrak menjadi jelas dengan menggunakan sebuah gambaran yang hidup dan sederhana; terkadang beliau mengungkapkan dampak suatu peristiwa dalam sebuah cara yang mampu menimbulkan berbagai lapis pengertian, memberikan rangsangan untuk berpikir lebih dalam. Dengan kata lain, beberapa dari perumpamaan Beliau akan memberikan jawaban, sedangkan beberapa perumpamaan lainnya akan mengundang pertanyaan.Setelah Beliau meninggal dunia, beberapa koleksi perumpamaan dari ceramah Dhamma Beliau telah dikumpulkan.

 

1.    Rumahmu yang Sesungguhnya
Bangunan rumah mu itu bukanlah rumahmu yang sesungguhnya. Itu adalah rumah yang kamu kira, rumahmu di dunia. Sementara rumahmu yang sesungguhnya, adalah kedamaian. Sang Buddha mengajarkan kita untuk membangun rumah kita sendiri dengan cara melepas hingga kita mencapai kedamaian.

 

2.    Menuju Samudra
Aliran air, danau, dan sungai yang mengalir turun ke samudra, ketika mereka mencapai samudra, semuanya mempunyai warna biru yang sama, mempunyai rasa asin yang sama. Sama halnya dengan manusia: Tidak masalah dari mana mereka berasal, ketika mereka mencapai arus Dhamma, semuanya adalah Dhamma yang sama.

 

3.    Air Tanah
Buddha adalah Dhamma; Dhamma adalah Buddha. Dhamma yang telah disadari Sang Buddha adalah sesuatu yang selalu ada di dunia. Dhamma tidak akan menghilang. Dhamma seperti air tanah. Siapa saja yang menggali sumur hingga ke lapisan air tanah akan menemukan air. Jadi orang tersebut bukanlah yang menciptakan atau membuat air menjadi ada. Yang dia lakukan hanyalah menggunakan tenaganya untuk menggali sumur hingga cukup dalam untuk mencapai air yang memang sudah ada disana. Jadi, apabila kita memiliki kebijaksanaan, kita akan menyadari bahwa sesungguhnya kita tidak lah jauh dari Buddha. Kita semua duduk tepat di depanNya saat ini. Kapanpun kita memahami Dhamma, kita melihat Buddha. Mereka yang dengan sungguh-sungguh mempraktekkan Dhamma secara terus menerus dimanapun mereka duduk, berdiri, atau berjalan pastinya akan mendengarkan Dhamma Sang Buddha setiap saat.

 

4.    Tepat Berada Di sini
Buddha adalah Dhamma; Dhamma adalah Buddha. Buddha tidak membawa pergi pengetahuan yang telah disadariNya. Beliau meninggalkannya tepat disini. Dalam bahasa yang lebih sederhana, ini seperti para guru di sekolah. Mereka tidak menjadi guru sejak lahir. Mereka harus mempelajari ilmu keguruan sebelum mereka bisa menjadi guru, mengajar di sekolah dan memperoleh penghasilan. Setelah suatu waktu, mereka akan meninggal atau tidak lagi menjadi seorang guru. Tetapi kamu dapat mengatakan bahwa para guru tersebut tidaklah meninggal. Kualitas-kualitas yang membuat orang tersebut menjadi guru tetap lah ada di sini. Hal ini sama juga dengan Sang Buddha. Kebenaran mulia yang telah membuat Beliau menjadi seorang Buddha tetap berada tepat di sini. Kebenaran mulia tersebut tidaklah pudar sama sekali.

 

5.    Gajah, Lembu Jantan, & Kerbau
Melatih pikiran adalah sebuah kegiatan yang berguna. Kamu dapat melihat peristiwa ini bahkan dalam hewan pekerja, seperti gajah, lembu, dan kerbau. Sebelum kita dapat membuat mereka bekerja, kita harus melatih mereka terlebih dahulu. Hanya ketika mereka telah terlatih dengan baik, kita dapat menggunakan kekuatan mereka dan mempekerjakan mereka untuk berbagai tujuan. Kalian semua tentu mengetahui hal ini. Pikiran yang terlatih dengan baik memiliki nilai berlipat kali lebih besar. Lihatlah pada Sang Buddha dan para siswa muliaNya. Mereka merubah status mereka dari orang biasa menjadi orang yang dimuliakan, dan dihargai oleh semua orang. Mereka telah memberikan manfaat kepada kita dalam cara yang lebih luas daripada yang dapat kita temukan. Semua ini datang dari kenyataan bahwa mereka telah melatih pikiran mereka dengan baik. Pikiran yang terlatih dengan baik sangat berguna bagi setiap pekerjaan. Pikiran yang terlatih memungkinkan kita untuk melakukan pekerjaan dengan hati-hati. Pikiran tersebut membuat kita lebih bijaksana daripada menuruti emosi, dan memungkinkan kita untuk mengalami sebuah kebahagiaan yang sesuai dengan lingkungan kita dalam kehidupan.

 

6.    Akar
Kita bagaikan sebuah pohon dengan akar-akar, sebuah pangkal batang, dan sebuah batang. Setiap daun, setiap cabang, tergantung pada akar untuk menyerap nutrisi dari tanah dan mengirimkannya ke atas untuk menghidupi pohon. Tubuh kita, termasuk ucapan dan perbuatan kita, indra penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba kita, adalah sama seperti cabang, daun, dan batang pohon. Pikiran sama seperti akar yang menyerap nutrisi dan mengirimkannya melalui batang ke daun-daun dan cabang-cabang sehingga mereka dapat berbunga dan menghasilkan buah.

 

7.    Dompet Yang Hilang
Ini sama seperti ketika kamu meninggalkan rumah dan kehilangan dompetmu. Dompet tersebut jatuh dari kantong dalam perjalanan, tetapi selama kamu belum menyadarinya kamu akan merasa tenang saja karena kamu belum mengetahui untuk apa ketenangan ini. Ketenangan ini untuk kepentingan ketidak-tenangan di waktu berikutnya. Ketika kamu pada akhirnya melihat bahwa kamu telah kehilangan uangmu: Itulah saat kamu merasa tidak tenang, tepat ketika kehilangan tersebut ada di depanmu. Sama halnya dengan tindakan buruk dan tindakan baik kita. Sang Buddha mengajarkan kita untuk mengenalkan diri kita mengenai hal ini. Jika kita tidak mengenali hal ini, maka kita tidak akan memiliki kebijaksanaan untuk mengetahui mana yang benar atau mana yang salah, mana yang baik atau mana yang buruk.

 

8.    Roda Pedati, Jejak Pedati
Siklus kelahiran kembali adalah seperti sebuah roda pedati. Ibarat seekor lembu sedang menarik pedati. Jika lembu tersebut tetap menarik pedati tanpa berhenti, maka jejak pedati akan terus menghapus jejak lembu tanpa berhenti. Roda pedati tidaklah panjang, tetapi ia bulat. Kamu bisa mengatakan bahwa roda pedati itu panjang, tetapi panjang mereka itu adalah bulat. Kita melihat kebulatan roda tersebut, kita tidak melihat panjangnya. Sepanjang lembu itu menarik pedati tanpa berhenti, maka roda pedati akan terus berputar tanpa henti. Hingga suatu hari lembu tersebut berhenti. Dia capek. Dia menjatuhkan lukunya – kayu pikul. Si lembu kemudian pergi, meninggalkan pedatinya. Roda pedati berhenti dengan sendirinya. Jika kamu meninggalkan pedati tersebut di sana dalam waktu yang lama, maka mereka akan hancur membusuk menjadi tanah, air, angin, dan api, kembali menjadi rumput dan debu. Ini sama halnya dengan orang yang masih membuat kamma: mereka tidak menuju ke pembebasan. Orang yang hanya membicarakan kebenaran tidak menuju ke pembebasan. Orang dengan pandangan yang salah tidak menuju ke pembebasan.

 

9.    Sebalok Es
Jika kamu meletakkan satu balok es yang besar di tempat terbuka di bawah sinar matahari, kamu akan melihat es tersebut musnah. Sama halnya dengan umur tubuh manusia, sedikit demi sedikit, sedikit demi sedikit. Setelah beberapa menit, atau beberapa jam, es tersebut akan mencair semuanya menjadi air. Inilah yang disebut khaya-vaya: kematian, kemerosotan. Kemerosotan benda-benda bentukan telah berlangsung sejak dulu, bahkan sejak dunia terbentuk. Ketika kita dilahirkan, kita juga telah menerima kemerosotan ini. Kita tidak membuangnya kemana pun juga. Ketika kita dilahirkan, kita juga menerima penyakit, usia tua, dan kematian. Kita memperoleh semua itu di waktu yang sama. Lihatlah pada bagaimana tubuh kita menjadi semakin merosot. Setiap bagian merosot. Rambut di kepala akan merosot; rambut di tubuh akan merosot; kuku – kuku jari tangan dan kaki akan merosot; kulit akan merosot. Semua hal, tidak peduli benda apapun juga, kemerosotan adalah sifat alaminya.

 

10.    Anak anak, Peluru
Sebuah pistol menembakkan anak – anak pelurunya keluar. Sedangkan kita menembakkan peluru kita ke arah dalam, ke hati kita. Ketika anak-anak kita baik, kita memasukkannya ke dalam hati. Ketika mereka nakal, kita juga memasukkannya ke dalam hati. Mereka adalah akibat dari hubungan kamma, anak-anak kita. Mereka ada yang baik, ada yang buruk, tetapi baik yang baik ataupun yang buruk kesemuanya adalah anak-anak kita yang sama. Ketika mereka lahir, lihatlah diri kita: semakin buruk mereka, semakin kita cinta mereka. Jika salah satunya terlahir dengan polio dan menjadi pincang, dia adalah yang paling kita cintai. Ketika kita meninggalkan rumah, kita memberitahu anak yang lebih tua, “Jagalah adik kecilmu. Jagalah yang satu ini” karena kita mencintainya. Kemudian ketika kita akan meninggal dunia, kita memberitahu mereka, “Jagalah dia. Jagalah anakku.” Anak tersebut tidak kuat, karena itu kamu semakin mencintainya melebihi lainnya.

 

11.    Ekor Ular
Kita sebagai manusia tidak menginginkan penderitaan. Kita tidak ingin yang lain selain kesenangan. Tetapi sesungguhnya, kesenangan merupakan penderitaan yang halus, tidak kentara. Rasa sakit adalah penderitaan yang nyata. Sederhananya, penderitaan dan kesenangan seperti seekor ular. Kepalanya adalah penderitaan, ekornya adalah kesenangan. Di kepalanya terdapat racun. Mulutnya mengandung racun. Jika kamu mendekati kepala si ular, ia akan menggigitmu. Jika kamu memegang ekornya sepertinya aman-aman saja, tetapi apabila kamu tetap memegang ekornya tanpa melepaskannya, ular tersebut akan berbalik dan menggigitmu juga. Hal ini dikarenakan baik kepala ular maupun ekornya terdapat pada satu tubuh ular yang sama. Baik kebahagiaan maupun kesedihan berasal dari sumber yang sama: kemelekatan dan kegelapan batin. Itulah mengapa ada waktunya ketika kamu bahagia tetapi tetap merasa gelisah dan tidak nyaman bahkan ketika kamu telah memperoleh hal yang kamu suka, seperti pencapaian materi, status, dan dipuji. Ketika kamu memperoleh hal-hal ini kamu merasa senang, tetapi sebenarnya pikiranmu tidak benar-benar damai karena ada kekhawatiran bahwa kamu akan kehilangan hal-hal tersebut. Kamu takut sumber kesenangan ini akan menghilang. Ketakutan ini yang menyebabkan kamu jauh dari kedamaian. Terkadang kamu ternyata benar-benar kehilangan hal-hal ini dan saat itulah kamu menjadi sangat menderita. Ini berarti bahwa bahkan apabila hal-hal ini membahagiakan, penderitaan berada dibalik kebahagiaan tersebut. Kita hanya tidak menyadarinya. Sama seperti ketika kita memegang seekor ular: Meskipun kita memegang ekornya, jika kita tetap memegang ular tersebut tanpa melepaskannya, ular tersebut akan balik dan menggigit kita. Dengan demikian, kepala ular dan ekor ular, kejahatan dan kebaikan: Inilah yang membentuk sebuah lingkaran yang akan terus berputar. Itulah mengapa kesenangan dan rasa sakit, baik dan buruk bukanlah sang jalan (menuju kesucian).

 

12.    Raja Kematian
Kita hidup seperti seekor ayam yang tidak tahu apa yang sedang terjadi. Di pagi hari, ayam akan membawa anak-anaknya keluar untuk mengais mencari makanan. Pada malam hari, mereka kembali untuk tidur di kandang. Keesokan paginya, mereka akan keluar untuk mencari makanan lagi. Si pemilik akan menaburkan beras untuk mereka makan setiap hari, tetapi ayam-ayam tersebut tidak mengetahui mengapa si pemilik memberi mereka makan. Si ayam dan sang pemilik berpikir dalam cara yang berbeda. Pemilik berpikir, “Berapa berat ayam ini?” Si ayam, pikirannya, terpikat pada makanan. Ketika sang pemilik mengangkatnya untuk ditimbang, ia berpikir sang pemilik sedang menunjukkan kasih sayang. Kita juga, tidak mengetahui apa yang sedang terjadi : darimana kita berasal, berapa tahun lagi kita akan hidup, kemana kita akan pergi, siapa yang akan mengantar kita ke sana. Kita tidak mengetahui ini semua sama sekali. Raja kematian adalah seperti sang pemilik ayam. Kita tidak mengetahui kapan dia akan menangkap kita, karena kita terpikat pada penglihatan, suara, penciuman, rasa, sensasi indra peraba, dan buah-buah pikiran. Kita tidak sadar bahwa kita semakin bertambah tua. Kita tidak punya kesadaran untuk merasa cukup.

 

13.    Awal adalah Akhir
Tahukah kamu, ketika kita lahir kita telah mati. Kehidupan dan kematian adalah hal yang sama. Seperti sebatang pohon. Sebagian dari pohon itu adalah batang bagian bawah; bagian lainnya adalah akhir dari ujung batang pohon. Jika tidak ada batang bagian bawah maka tidak akan ada ujung batang pohon tersebut. Ketika ada ujung batang pohon, maka disana akan ada batang bagian bawah. Ujung batang tanpa batang bagian bawah: Adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Demikian hal ini berlangsung. Dengan demikian adalah hal yang lucu. Ketika seseorang meninggal, kita merasa sedih dan kecewa. Kita duduk dan menangis, berduka, dan sebagainya. Hal tersebut adalah pengetahuan yang salah. Itu adalah delusi. Bahwa ketika seseorang meninggal maka kita akan sedih dan menangis. Itulah yang selalu dilakukan entah mulai sejak kapan. Kita tidak berhenti untuk memeriksa hal ini secara lebih hati-hati. Sesungguhnya dan maafkan saya untuk mengatakan hal berikut : menurut saya jika kamu menangis ketika seseorang meninggal, maka akan lebih baik jika kamu menangis ketika seseorang dilahirkan. Tetapi coba kita lihat ke belakang, ketika seorang anak dilahirkan, orang-orang gembira dan tertawa karena bahagia. Akan tetapi sesungguhnya kelahiran adalah kematian. Kematian adalah kelahiran. Awal adalah akhir; akhir adalah awal.

 

14.    Dedaunan
Ketika kita duduk di hutan yang sunyi, dan tidak ada angin yang bertiup, maka dedaunan akan tetap tenang pada pohonnya. Ketika angin bertiup, dedaunan pun berguguran. Pikiran sama seperti dedaunan ini. Ketika ia bersentuhan dengan sebuah objek, ia akan bergetar sesuai dengan sifat alaminya. Semakin sedikit kamu mengetahui Dhamma, semakin besar getaran pikiranmu. Ketika pikiran merasakan kesenangan, maka ia mati dalam kesenangan. Ketika pikiran merasakan kesakitan, ia mati dalam kesakitan. Pikiran terus bergerak dalam cara seperti ini.

 

15.    Air Berwarna
Hati kita, ketika dalam kondisi normal, adalah seperti air hujan. Airnya bersih, jernih, bening, dan normal. Jika kita memasukkan pewarna hijau ke dalam air, atau pewarna kuning ke dalam air, maka warna air akan berubah menjadi hijau, atau menjadi kuning. Hal yang sama terjadi dengan pikiran kita: ketika pikiran bertemu dengan sebuah objek yang ia suka, maka ia akan merasa senang. Ketika ia bertemu dengan sebuah objek yang tidak ia suka, pikiran akan menjadi suram dan tidak nyaman sama seperti air yang berubah menjadi hijau ketika kamu menambahkan pewarna hijau ke dalamnya, atau berwarna kuning ketika kamu menambahkan pewarna kuning. Air akan terus merubah warnanya.

 

16.    Yatim Piatu
Pikiran kita, ketika tidak ada yang menjaganya, adalah seperti seorang anak tanpa orang tua yang menjaganya –seorang anak yatim piatu, seorang anak tanpa pelindung. Seseorang tanpa seorang pelindung akan mengalami penderitaan-penderitaan, dan sama halnya dengan pikiran. Jika pikiran tidak terlatih, jika pandangan-pandangannya telah keluar dari pandangan benar, maka pikiran hanya akan mengalami berbagai macam masalah.

 

17.    Mengapa Ia Berat
Ketika penderitaan muncul, kamu harus melihat bahwa ini adalah penderitaan, dan harus melihat darimana penderitaan ini muncul. Akankah kamu melihat sesuatu? Jika kita melihat penderitaan tersebut sebagai suatu hal yang biasa, maka tidak akan ada penderitaan. Sebagai contoh, ketika kita sedang duduk disini, kita merasa tenang. Hingga pada suatu waktu kita ingin wadah meludah ini, kita akan mengangkatnya. Sekarang kondisi telah berubah. Mereka berubah dari keadaan ketika kita belum mengangkat wadah meludah. Ketika kita mengangkat wadah meludah ini, kita merasa menjadi lebih berat. Itulah alasannya. Mengapa kita merasa berat jika kita tidak mengangkat wadah meludah tersebut? Jika kita tidak mengangkatnya, maka tidak akan ada rasa berat. Jika kita tidak mengangkatnya, kita akan merasa ringan. Jadi mana yang merupakan penyebab dan mana yang merupakan hasil? Yang perlu kamu lakukan hanyalah mengamati hal ini dengan sungguh-sungguh maka kamu akan mengetahuinya. Kamu tidak perlu pergi kemana-mana untuk belajar. Ketika kita melekat pada sesuatu, itulah sumber penderitaan. Ketika kita melepaskannya maka tidak akan ada penderitaan.

 

18.    Sebuah Jarum Suntik
Inilah penderitaan. Penderitaan biasa adalah satu hal; penderitaan yang di atas dan melebihi biasanya adalah hal yang lain lagi. Rasa sakit biasa dari tubuh yang terbentuk ini adalah rasa sakit ketika kamu berdiri, sakit ketika kamu duduk, sakit ketika kamu berbaring: Semua hal ini adalah penderitaan yang normal, penderitaan biasa bagi tubuh yang terbentuk ini. Sang Buddha juga mengalami perasaan-perasaan seperti ini. Dia merasakan kesenangan yang seperti ini, rasa sakit yang seperti ini, tetapi dia telah menyadari bahwa itu semua adalah hal yang biasa. Semua kesenangan dan rasa sakit biasa ini bisa dibawanya ke dalam ketenangan karena dia telah memahaminya. Beliau memahami penderitaan biasa: Hal ini adalah demikian adanya. Kesenangan dan penderitaan biasa tersebut tidaklah terlalu kuat. Sebagai gantinya, dia terus mengawasi penderitaan yang datang bertamu, penderitaan yang diatas dan melebihi biasanya. Sama juga halnya ketika kita sakit dan pergi ke dokter untuk disuntik. Jarum suntik ditusukkan melalui kulit ke dalam daging kita. Akan terasa sakit sedikit, tetapi itu adalah hal yang biasa. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan. Ini yang harus terjadi pada semua orang. Penderitaan yang di atas dan melebihi penderitaan biasa adalah penderitaan upadana, atau kemelekatan. Hal ini seperti membasahi sebuah jarum suntik dengan racun dan menusukkannya ke dalam tubuh kita. Jarum tersebut tidak hanya menyakitimu dengan cara yang biasa: tidak sekedar penderitaan biasa. Melainkan jarum tersebut menyakiti hingga sanggup membunuhmu.

Bersambung ke bagian 2 >> 108 Perumpamaan Dhamma Bagian 2

 

Sumber : “In Simple Terms: 108 Perumpamaan Dhamma”, oleh Ajahn Chah, diterjemahkan dari bahasa Thailand oleh Bhikkhu Thanissaro. Access to Insight, 4 April 2011, http://www.accesstoinsight.org/lib/thai/chah/insimpleterms.html.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*